KEWARGA NEGARAAN DALAM MENDALAMI SUKU BANTEN
Daftar isi
Halamam
Kata
pengantar...................................................................................................................................1
Daftar isi
...............................................................................................................................................2
BAB 1 pendahuluan...............................................................................................................................3
BAB 2
pembahasan................................................................................................................................4
Suku
banten...................................................................................................................................4
BAB III
...................................................................................................................................................12
BAB 1
PENDAHULUAN
Keberagaman suku
bangsa di indonesia ini merupakan sustu alat untuk menjadikan suatu bangsa yang
kaya akan adat istiadat di negara yang kita diami ini
Dipulau jawa khususnya terdapat
bayak suku suku yang berbeda satu sama lain diantaranya adalah suku banten,
adalah satu suku yang sangat terkenal di indonesia ini, dan wilayahnya yang
dekat dengan daerah ibu kota jakarta sebagai kota pusat di negara indonesia
ini, banten juga terkenal dengan ilmu
ilmu kaduragan dan ilmu ilmu pengisi badan lainya disamping ilmu ilmu agama
yang telah menjadi keyakinan akan kebenarannya, maka banyak orang yang ingin
menambah ilmu dari suku banten ini karena memang sudah terkenal ke seluruh
wilayah indonesia ini
BAB II
Suku Banten
Suku Banten, lebih tepatnya Orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahiyangan, Cirebon dan Jakarta. Sejak abad ke 11 hingga 12 saat berdirinya Kerjaan Sunda, di daerah Banten sudah ada pemukiman. Daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah tersebut. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai.
Suku Banten, lebih tepatnya Orang Banten adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahiyangan, Cirebon dan Jakarta. Sejak abad ke 11 hingga 12 saat berdirinya Kerjaan Sunda, di daerah Banten sudah ada pemukiman. Daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah tersebut. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai.
Pada daerah pantai tersebut, didirikan
Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai
seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja Sunda Kalapa atau
Batavia direbut oleh Belanda serta Cirebon dan Parahiyangan direbut oleh
Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah manjadi keresidenan pada zaman
penjajahan Belanda.
Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang
sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah
hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang
sudah mengenal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian
wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja
Hayam Wuruk.
Orang asing kadang menyebut penduduk yang
tinggal pada bekas kersidenan ini sebagai Bantenese yang mempunya arti ”orang
Banten”. Setelah provinsi Banten terbentuk, ada sebagian orang yang
menterjemahkan Bantenese menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan
budaya yang unik. Penggunaan nama Banten sebenarnya sudah muncul jauh sebelum
berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai
dan dan daerah sekelilingnya yaitu Cibanten atau sungai Banten.
Orang Banten menggunakan bahasa Banten.
Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada
bahasa Sunda kuno yang pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai
bahasa kasar.
Perbedaan tata bahasa antara Bahasa Banten
dan Bahasa Sunda dikarenakan wilayah Banten tidak pernah menjadi bagian dari
Kesultanan Mataram, sehingga tidak mengenal tingkatan halus dan sangat halus
yang diperkenalkan oleh Mataram. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui
program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan oleh siaran
televisi lokal di wilayah Banten. Selain Bahasa Sunda Banten, masyarakat Banten
juga menggunakan Bahasa Banyumasan dan Bahasa Jawa Banten di daerah pesisir
utara Banten.
Sebagian besar anggota masyarakat Banten
memeluk agama Islam dengan semangat religius yang tinggi, tetapi pemeluk agama
lain dapat hidup berdampingan dengan damai. Kekhasan budaya masyarakat Banten
antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari
Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga
terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama,
Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.
Di Banten terdapat Suku Baduy yang terbagi
menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli
Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian
maupun pola hidup lainnya. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di
daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai
wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga
baik-baik, tidak boleh dirusak.
Sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat
Banten adalah kosmologi, tentang alam semesta. Pada fase perkembangan awal
pengetahuan tentang kosmologi orang Banten, bahwa alam ini milik Gusti Pangeran
yang dititipkan kepada Sultan yang berpangkat Wali setelah Nabi. Karena itu hierarchi
Sultan adalah suci.
Gusti Pangeran ini mempunyai kekuatan yang
luar biasa. Sebagian kecil dari kekuatannya diberikan kepada manusia melalui
pendekatan diri. Orang yang mengetahui formula-formula pendekatan diri untuk
memperoleh kekuatan itu adalah para Sultan dan para Wali, sehingga memperoleh
kesaktian yang dapat disebarkan kepada keturunan dan kepada siapa saja yang
berguru atau mengabdi.
Dalam sistem lapisan sosialnya bisa
ditelusuri pada awal di jaman Kesultanan. Lapisan atas dalam stratifikasi
sosial adalah pada Sultan dan keluarganya/keturunannya sebagai lapisan
bangsawan. Kemudian para pejabat kesultanan, dan akhirnya rakyat biasa. Pada
perkembangan selanjutnya, hilangnya kesultanan, yang sebagian peranannya
beralih pada Kiyai (kaum spiritual), dalam stratifikasi sosial merekalah yang
ada pada lapisan atas. Jika peranan itu berpindah kepada kelompok lain, maka
berpindah pulalah lapisan itu.
Adapun mata pencaharian suku Banten umumnya
adalah bertani. Dalam sistem pertaniannya ada tradisi yang masih nampak,
misalnya hubungan antara pemilik tanaman (petani) dan orang-orang yang berhak
ikut mengetam dengan pembagian tertentu menurut tradisi. Selain bertani,
masyarakat Banten yang tinggal di dekat lau bermata pencaharian sebagai
nelayan.
EKSOSTISME FOKLORE
SUKU BADUY DI PROVINSI BANTEN
oleh : Desviana Isnaeni 4423107028
tugas 1
oleh : Desviana Isnaeni 4423107028
tugas 1
Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki
moto “Iman Taqwa”. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten
adalah orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan
mendominasi hampir seluruh kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang.
Hari jadi provinsi Banten adalah 4 Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten
adalah 5° 7' 50" - 7° 1' 11" LS dan 105° 1' 11" -
106° '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan
Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Luas wilayah
Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000
adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi 10.644.030 jiwa, dan kepadatan
1.161,9/km².
Demografi Banten sendiri terdiri
dari Suku bangsa Banten dengan presentase sebesar 47% dari jumlah
penduduk, Sunda dengan presentase sebesar 23% dari jumlah penduduk,
dengan presentase sebesar Jawa 12% dari jumlah penduduk, dengan presentase
sebesar Betawi 9,62% dari jumlah penduduk, Tionghoa dengan presentase
sebesar 1,1% dari jumlah penduduk, Batak dengan presentase sebesar
0,93% dari jumlah penduduk, Minangkabau dengan presentase sebesar
0,81%, dari jumlah penduduk Lain-lain dengan presentase sebesar 54%
dari jumlah penduduk. Mereka berbahasa Sunda, Jawa Banten, Indonesia, dan
Betawi. Dan kebanyakan mereka memeluk agama Islam, karena hampir 96,6% jumlah
presentase pemeluk agama islam. Sedangkan yang beragama Kristen 1,2%, Katolik
1%, Buddha 0,7%, dan Hindu 0,4%.
Wilayah laut Banten merupakan
salah satu jalur laut potensial selain karena batas daerahnya. Batas daerah
Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan potensi perikanan
yang cukup bagus bagi Jawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan dengan Selat
Sunda, yang merupakan merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang
strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan
Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan
Singapura. Disebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang
berpotensi untuk memperkaya mata pencarian penduduknya, dengan berlayar mencari
ikan besar. Dan yang terakhir di sebelah timur, yang berbatasan dengan DKI
Jakarta dan Jawa Barat
Iklim Banten sendiri adalah Iklim
Tropis. Daerah Banten terbagi menjadi 8 daerah kabupaten/kota.
Diantaranya adalah Kota Tangerang Selatan, Ciputat, Kota Cilegon, Kota Serang,
Kota Tangerang, Kabupaten
Pandeglang
Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang.
Di Provinsi Banten terdapat suku
asli, yaitu Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang
masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup
lainnya. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai
Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan
dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh
dirusak. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar
yang terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta
damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.
Kadang kala suku Baduy juga
menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka
berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar
aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km
sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.
Masyarakat suku Baduy sendiri
terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau
Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar
7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Mereka tinggal di desa
Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy
dalam. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala
berwarna hitam. Suku Baduy Luar biasanya sudah banyak berbaur dengan
masyarakat Sunda lainnya. selain itu mereka juga sudah mengenal kebudayaan
luar, seperti bersekolah.
Sementara di bagian selatannya
dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Dangka. Diperkirakan mereka berjumlah
800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kelompok
tangtu (baduy dalam). Suku Baduy Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih
terisolir dan belum masuk kebudayaan luar. Memiliki kepala adat yang membuat
peraturan-peraturan yang harus dipatuhi biasa disebut Pu’un. Orang Baduy dalam
tinggal di 3 kampung,yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.
Kelompok Baduy Dangka, mereka
tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang
tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kedua
kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy
Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam
dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang
biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan,
Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak
batik warna biru.
Masyarakat Baduy sangat taat pada
pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali
hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan
peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh
seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat
dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun
Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya
pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan
pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar
sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah
yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot.
Mata pencarian masyarakat Baduy
yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat
kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian
kecil telah mengenal berdagang. Kepercayaan yang dianut masyarakat Kanekes
adalah Sunda Wiwitan.didalam baduy dalam, Ada semacam ketentuan tidak tertulis
bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid tidak boleh masuk ke
wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di langgar maka akan kena
getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku Baduy sendiri.
Adapun sebutan siku Baduy menurut
cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni sebutan dari golongan/ kaum Islam
yang maksudnya karena suku itu tidak mau mengikuti dan taat kepada ajaran agama
Islam, sedangkan disaudi Arabia golongan yang seperti itu disebut Badui
maksudnya golongan yang membangkang tidak mau tunduk dan sulit di atur sehingga
dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku Baduy.
Konon pada sekitar abad ke XI dan
XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten,
Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya
adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN dengan gelar PRABU SILIWANGI.
Kemudian pada sekitar abad ke XV
dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar
Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah SUNAN GUNUNG JATI
dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga
kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang
memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang
masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan
mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti
yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug,
leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina gunung,
mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran
nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua”
Artinya : jauh tidak menentu yang
tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung
dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak
saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan “
Suku baduy masih setia dengan
adat istiadatnya yang menjalani kehidupan seperti leluhurnya. Tak heran, jika
orang Baduy Dalam hingga kini tetap pantang menggunakan sabun, menumpang mobil
atau mengendarai sepeda motor. Bahkan tak pernah bersepatu. Jika bepergian ke
Jakarta misalnya, mereka tempuh dengan berjalan kaki selama tiga hari tiga
malam. Daftar pantangan tabu bagi mereka masih berderet: Tak bersekolah,
menggunakan kaca, menggunakan paku besi, pantang mengkonsumsi alkohol dan
berternak binatang yberkaki empat, dan masih banyak lagi.
Prinsip kearifan yang dipatuhi
secara turun temurun oleh masyarakat Baduy ini membuat mereka tampil sebagai
sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi.
Karena itu, ketika badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan
pertahanan ekonomi kita di awal tahun milennium ini, suku Baduy terbebas dari
kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang diterapkan dalam prinsip
hidup sehari-hari.
Orang Baduy tak saja mandiri
dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Mereka tak membeli beras,
tapi menanam sendiri. Mereka tak membeli baju, tapi menenun kain sendiri.. Kayu
sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang di hutan mereka, yang keutuhan
dan kelestariannya tetap terjaga. “Dari 5.136,8 hektar kawasan hutan di Baduy,
sekitar 3.000 hektar hutan dipertahankan untuk menjaga 120 titik mata air”,
kata Jaro Dainah, kepala pemerintahan (jaro pamarentah) suku Baduy.
Kemandirian mereka dari hasrat
mengonsumsi sebagaimana layaknya orang kota, antara lain tampak pada beberapa
hal lainnya. Untuk penerangan, mereka tak menggunakan listrik. Dalam bercocok
tanam, mereka tak menggunakan pupuk buatan pabrik. Mereka juga membangun dan
memenuhi sendiri kebutuhan untuk pembangunan insfrasuktur seperti jalan desa,
lumbung padi, dan sebagainya.
Orang tak bisa menuding begitu
saja, bahwa suku Baduy Dalam terbelakang. Ternyata, mereka menguasai teknik
pertanian dan bercocok tanam dengan baik, sembari tetap menjaga kelestarian
lingkungan. “Mereka memang tak bersekolah. Belajar di ladang dan menimba
kearifan hidup di alam terbuka adalah sekolah mereka”, tutur Boedihartono,
antropolog dari Universitas Indonesia, yang pernah meneliti suku Baduy selama
beberapa tahun. “Yang amat menggembirakan, tingkah laku yang meneladani
moralitas utama, menjadi acuan utama bagi kepribadian dan perilaku orang Baduy
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perkataan dan tindakan mereka pun polos,
jujur tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Karena itu, banyak merasa senang jika berurusan dengan orang Baduy karena
mereka pantang merugikan orang lain”, ujarnya lagi.
Untuk menjaga kemurnian adat dari
pencemaran budaya luar yang dibawa para wisatawan dalam mengunjungi kawasan
pemukiman kaum Baduy, sesekali jaro (kepala desa) Baduy Dalam melakukan sidak
ke desa Baduy Luar. Itu untuk meneliti apakah ada benda-benda yang bisa
melunturkan kepercayaan mereka. Mereka kadang menyita radio yang dianggap
melunturkan kepercayaan adat mereka. Selama ini, tanpa bunyi sepeda motor,
radio, televisi dan mesin apa saja apa saja yang menimbulkan asap dan
bunyi-bunyian, maka desa-desa Baduy adalah titik tenang. Bunyi gemeletak alat
penenun menjadi irama lembut yang menemani keheningan alam di sana.
Akan tetapi, amatlah sukar
menjaga keheningan tetap bertahan dalam dunia modern yang serba hiruk pikuk
ini. Misalnya kini, mulai tampak anak-anak Baduy yang “meninggalkan”
pakaian tradisional mereka, berupa kain tenunan tangan dengan warna hitam dan
putih, dengan memakai kaos ala seragam kesebelasan sepakbola Italia yang
“berteriak” dengan warna-warni meriah. Mereka yang selama ini menabukan jual
beli dan penggunaan uang, dengan menetapkan pola barter, akhirnya mulai
terlibat proses dagang.
Dalam melaksanakan upacara tertentu, masyarakat Baduy
menggunakan kesenian untuk memeriahkannya. Adapun keseniannya yaitu:
1. Seni Musik (Lagu daerah yaitu Cikarileu dan Kidung (
pantun) yang digunakan dalam acara pernikahan).
2. Alat musik (Angklung Buhun dalam acara menanan padi dan
alat musik kecapi)
3. Seni Ukir Batik.
Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di
Provinsi Banten hampir mayoritasnya mengakui kepercayaan sunda wiwitan.
Yang mana kepercayaan ini meyakini akan adanya Allah sebagai
“Guriang Mangtua” atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan
sesuai ajaran Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan
ini.
Kepercayaan sunda wiwitan berorientasi pada bagaimana
menjalani kehidupan yang mengandung ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan
sehari-hari,langkah dan ucapan, dengan melalui hidup yang mengagungkan
kesederhanaan (tidak bermewah-mewah) seperti tidak
mengunakanlistrik,tembok,mobildll.
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy
menurut kepercayaan sunda wiwitan:
1. Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka
menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat
baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan
Katiga.
2. Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan
sebagain uacapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah
melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang bsering disebut lebaran.
3. Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat
yang bertujuan merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat baduy dengan
pemerintah, dan merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat baduy.
4. Upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung
buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran.
Upacara Kelahiran yang dilakukan suku Baduy melalui urutan
kegiatan yaitu:
1. Kendit yaitu upacara 7 bulanan ibu yang sedang
hamil.
2. Saat bayi itu lahir akan dibawa ke dukun atau
paraji untiuk dijampi-jampi.
3. Setelah 7 hari setelah kelahiran maka akan diadakan
acara perehan atau selametan.
4. Upacara Angiran yang dilakukan pada hari ke 40
setelah kelahiran.
5. Akik
ah yaiotu dilakukannya cukuran, khitanan dan
pemberian nama oleh dukun(kokolot) yuang didapat dari bermimpi dengan mengorbankan
ayam.
Perkawinan, dilakukan berdasarkan perjodohan dan dilakukan
oleh dukun atau kokolot menurut lembaga adat (Tangkesan) sedangkan Naib sebagai
penghulunya. Adapun mengenai mahar atau seserahan yakni sirih, uang semampunya,
dan kain poleng.
Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari tentunya masyarakat
baduy disesuaikan dengan penanggalan:
Bulan
Kasa
Bulan
Bulan Sapar
Karo
Bulan
Katilu
Bulan
Kalima
Bulan Kaanem
Bulan Kapitu
Bulan Kadalapan
Bulan Kasalapan
Bulan
Kasapuluh
Bulan Hapid Lemah
Bulan Hapid Kayu
Seperti yang telah diketahui akan kebudayaan suku ini yang
kental akan mitos, apabila ada masyarakat baduy yang melanggar asalah satu
pantangan maka akan dikenai hukuman berupa diasingkan ke hulu atau dipenjara
oleh pihak polisi yang berwajib
BAB III
PENUTUP
A KESIMPULAN
Suku banten adalah penduduk asli yang mendiami daerah
kekuasaan kesultanan banten diluar parahyangancirebon dan jakarta, mula mula
banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal kapal dan
dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang eropa yang kemudian
menjajah bangsa ini, pada tahun 1330 orang sudah mengenal sebuah negara yang
pada saat itu dinamaka panten yang kremudian wilayah ini dikuasai oleh
majapahit dibawah maha patih gajah mada dan raja hayam wuruk



Komentar
Posting Komentar