FALSAFAT DAN MISTISME DALAM ISLAM DAN TASAUF





BAB PERTAMA
KONTAK PERTAMA ANTARA ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN, SERTA FALSAFAT YUNANI
Alexander yang Agung mengalahkan Darius di tahun 331 S.I (Sebelum Islam) di Arbela (sebelah timur Tigris). Alexander datang dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, tetapi sebaliknya ia berusaha untuk menyatukan kebudayaan Yunani dengan Persia. Ia sendiri mulai berpakaian secara Persia dan orang – orang Persia banyak yang diangkatnya menjadi pengiring – pengiringnya. Ia kawin dengan Statira, anak Darius dan pada waktu itu juga 24 dari jendral – jendralnya dan 10.000 prajurit kawin atas anjurannya dengan wanita – wanita Persia di Susa. Selain dari mengadakan hubungan – hubungan perkawinan ia dirikan pula kota – kota dan koloni – koloni yang penduduknya diatur begitu rupa sehingga terdiri dari kedua golongan Yunani Persia. Setelah Alexander meninggal kerajaannya yang besar terbagi tiga : Macedonia di Eropa, Kerajaan Seleucid (Seleucus) di Asia dengan kota – kota penting Antioch di Siria, Seleucia de Mesopotamia dan Bactra di Persia sebelah timur. Ptolemeus dan Seleucusberusaha meneruskan politix Alexander untuk menyatukan kedua peradaban Yunani dan Iran. Sungguhpun usaha itu tak berhasil, kebudayaan dan peradaban Yunani meninggalkan bekas besar di daerah – daerah ini. Bahasa adminintrasi di Mesir dan Syiria ialah bahasa Yunani, sesudah masuknya Islam kedalam kedua daerah itu dan baru hanya ditukar dengan bahasa arab diabad ke-7 M oleh Khalifah Bani Umayah A. Malik Ibnu Marwan (685 – 70 M), Khalifah ke-5 dari Bani Umayyah. Alexandria, Antioch dan Bactra kemudian menjadi pusat ilmu pengetahuan dan falsafat Yunani.
Di abad ke-3 M pusat – pusat kebudayaan Yunani ini ditambah dengan kota Jundishapur tidak jauh dari Baghdad (didirikan pada tahun 762 M). Ketika raja Bani Abbas al-Mansur sakit (tahun 765 M), atas nasihat mentrinya , Khalid ibnu Barmak (seorang Persia), kepala rumah sakit Jundishapur, Girgis Ibnu Bukhyishu dipanggil untuk mengobatinya. Khalid ibnu Barmak sendir berasal dari Bactra. Keluarga Barmak dikenal sebagai keluarga yang gemar pada ilmu pengetahuan falsafat dan condong pada faham Muktazilah.
Harun Al-Rasyid menjadi Khalifah di tahun 786 M, dan sebelumnya ia belajar di Persia dibawah asuhan Yahya Ibnu Khalid Ibnu Barmak dan dengan demikian banyak dipengaruhioleh kegemaran keluarga Barmak pada ilmu pengetahuan dan falsafat. Dibawah pemerintahannya, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun dimulai. Buku-buku itu diterjemahkan kedalam bahasa Siria, bahasa ilmu pengetahuan di Mesopotamia waktu itu, kemudian baru kedalam bahasa Arab.
Penerjemah -  penerjemah termashur dari zaman itu antara lain:
1.    Hunayn Ibnu Ishaq (wafat 873 M), seorang Kristen yang pandai berbahasa Arab dan Yunani (pernah berknjung ke Yunani), ia terjemahkan 20 buku Galen ke dalam bahasa siria dan 14 buku lainnya ke dalam bahasa Arab. Dalam keterangan Hunayn mempunyai 90 pembantu dan murid dalam penerjemehan ini.
2.    Anak Hunayn yang bernama Ishaq (wafat 910 M)
3.    Sabit Ibnu Qurra (825 – 901 M), sorang penyembah bintang
4.    Qusta Ibnu Luqa, seorang Kristen
5.    Hubays, sorang kemenakan Huayn
6.    Abu Bisr Matta ibnu Yunus (wafat 939 M) juga seorang Kristen.
      Dengan kegiatan penerjemahan ini, sebagian besar kerangan -  karangan
Aristoteles, Plato, Neoplatonisme, Galen serta karangan – karangan dalam ilmu
Kedokteran dapat dibaca oleh alim ulama islam. Terutama ilmu tentang falsafat banyak menarik perhatian kaum Muktazilah, sehingga mereka banyak dipengaruhioleh pemujaan daya akal yang terdapat dalam falsafat yunani. Abu al-Huzail al-Allaf, Ibrahim al-Nazzam, Bisr ibnu al-Mu’tamir dan lainnya banyak membaca buku-buku falsafat.
Tidak lama kemudian timbullah di kalangan umat islam sendiri filosof-filosof dan ahli-ahli ilmu pengetahuan, seperti Abul Abbas al-Sarkasyi (ilmu kedokteran) abad ke-9 M, al-Razi (abad ke-10 M) dan lain-lain. Filosof islam yang pertama muncul di abad ke-9 M seperti al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina dan lainnya. Filosof-filosof ini banyak dipengaruhi oleh filosof-filosof yunani terutama Aristoteles, Palto dan Plotinus.
Di tahun 740-828 M banyak bermunculan ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti Muhammad, Ahmad dan Hasan, ketiganya bersaudara dan ahli matematika. Al-Asma, yang mengarang buku ilmu pengetahuan alam, Jabir dalam ilmu Kimia, al-Biruni dalam ilmu Astronomi, Geografi, Sejarah dan Matematika, Ibnu al-Haitam dalam ilmu Optik.

1.   Ya’kub ibnu Ishaq al-Kindi
Ya’kub ibnu Ishaq al-Kindi berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir di Kufah (Iraq) tahun 796 M. Orang tuanya adalah gubernurdari Basrah. Setelah dewasa ia pergi ke Baghdad dan mendapat lindungan dari Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) dan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M). Al-Kindi menganut aliran Muktazilah dan kemudian belajar falsafat.
Buku – buku karangan Ya’kub ibnu al-Kindi berjumlah 241 buku falsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya.
1. Falsafat Ketuhanan
Selain ahli ilmu filosof, ia juga ahli ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan ia bagi jadi dua bagian :
1.    Pengetahuan Ilahi, dasar pengetahuan ini ialah keyakinan
2.    Pengetahuan manusiawi, dasar pengetahuan ini ialah pemikiran.
Falsafat baginya adalah pengetahuan tentang yang benar. Di sinilah terlihat pengertian falsafat dan agama. Tujuan agama adalah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, falsafat itu pula lah tujuannya. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal, dan falsafat juga mempegunakan akal. Dan falsafat yang paling tinggi adalah falsafat tentang Tuhan, sebagaimana perkataan al-Kindi “ falsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu tentang ilmu yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar”.
Kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada dalam akal dengan apa yang ada di luar akal. Dalam alam terdapat beberapa benda yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Yang terpenting bagi falsafat adalah hakikat yang terdapat dalam benda itu yaitu kulliyat. Tiap tiap benda mempunyai dua hakikat :
-      Hakikatnya sebagai juz’I dan ini disebut aniyah
-      Dan hakikatnya sebagai kulli dan ini disebut sebagai mahiyah yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan species.
Sesuai dengan faham yang ada dalam islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah pencipta dan bukan penggerak pertama sebagaimana pendapat Aristoteles.
2. Falsafat Jiwa
Roh adalah urusan Tuhan dan bukan urusan manusia, Walaupun demikian filosof-filosof islam membahas ini berdasar pada falsafat tentan roh yang mereka jumpai dalam falsafat Yunani.
Roh menurut al-Kindi tidak tersusun (simple, sederhana) tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansinya berasal dari substansi Tuhan. Hubungannya dengan Tuhan sama halnya dengan cahaya dan matahari.
Roh lain dari badan dan mempunyai wujud tersendiri, argumen / alasan yang dikeluarkan al-Kindi tentang perbedaan roh dan badan ialah keadaan badan mempunyai hawa nafsu dan sifat pemarah, sedangkan roh menentang keinginan hawa nafsu.
Roh bersifat kekal dan tidak hancur seperti hancurnya badan, karena substansinya berasal dari Tuhan. Selama dalam badan, roh tidak memperoleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Setelah berpisah dengan badan, barulah roh mendapatkan kesenangan sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna.
Jiwa mempunyai tiga daya:
·         Daya Nafsu (appetive)
·         Daya Pemarah (irascible)
·         Daya Berfikir (Cognitive faculty)

Menurut al-Kindi ada tiga macam akal :
·         Akal yang bersifat Potensial
·         Akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi actual
·         Akal yang telah mencapai kedua dari aktualitas
Akal yang bersifat potensial tidak bisa mempunyai sifat aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu menurut al-Kindi ada satu lagi akal yang mempunyai wujud di luar roh manusia (akal yang selamanya dalam aktualitas) ialah yang membuat akal yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi actual, sifat-sifat akal ini :
1.    Merupakan akal pertama
2.    Selamanya dalam aktualitas
3.    Merupakn species dan genus
4.    Membuat akal potensial menjadi actual berfikir
5.    Tidak sama dengan akal potensial

2.   Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi
Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi lahir di Ray, suatu kota dekat Teheran, tahun 863 M dan wafat pada tahun 925 M. Ia terkenal di barat dengan nama Rhazes dari buku-bukunya. Karangannya yang terkenal ialah “tentang cacar dan tampak” yang diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih dicetak untuk kali ke empat puluhnya. Al-Hawi merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20 jilid, dan mengandung ilmu-ilmu kedokteran Yunani, Siria dan Arab. Di tahun 1279 M ensiklopedia ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh seorang Yahudi di Sisilia bernama Faraj ibni Salim, semenjak 1486 M ensiklopedia ini berkali-kali dicetak dan dipakai Eropa sampai abad ke-17 M.
1.   Falsafat Lima Kekal
Falsafatnya terkenal dengan doktrin Lima yang Kekal : Tuhan, Jiwa Universal, Materi Pertama, Ruang Absolut dan Zaman Absolut.
Mengenai yang terakhir ia membuat perbedaan antara zaman mutlak dan zaman terbatas yaitu antara al-dahr, duration dan waqt, time. Yang pertaman kekal dalam arti tidak bermula dan tak berakhir, dan yang kedua disifati oleh angka. Bagi benda kelima hal ini ada :
1.    Materi
2.    Ruang
3.    Zaman
4.    Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh, dan diantara yang hidup ada pula yang berakal yang dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur.
5.    Semua ini perlu pada pencipta yang Maha bijaksanalagi Mahamengetahui.
Dua dari yang Lima Kekal itu hidup dan aktif, Tuhan dan roh. Satu daripadanya tidak hidup dan pasif, yaitu materi. Dua lainnya tidak hidup, tidak aktif  dan tidak pula pasif yaitu ruang dan masa.
2. Roh dan Materi
Menurut al-Razi, Tuhan pada mulanya tidak berniat membuat alam ini. Tetapi pada suatu ketika roh tertarik pada materi pertama, bermain dengan materi pertama itu, tetapi materi pertama berontak. Tuhan datang menolong roh dengan membentuk alam ini dalam susunan yang kuat sehingga roh dapat mencari kesenanga materi di dalamnya.
3. Roh dan Materi
Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya pada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu dan perlunya nabi-nabi. Ia berkeyakinan bahwa akal manusia kuat untuk mengetahui yang baik serta apa yang buruk, untuk tahu pada Tuhan dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini.
Al-Razi adalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendapat walaupun itu bertentangan dengan faham yang dianut umat islam :
1.    Tidak percaya pada wahyu
2.    Qur’an bukan mu’jizat
3.    Tidak percaya para nabi
4.    Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermuladantidak berakhir selain Tuhan

3.Abu Nasr Muhammad al-Farabi
Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, desa di Farab (Transoxania) tahun 870 M, menurut keterangan ia berasal dari Turki dan orang tuanya adalah seorang jendral. Dari Farab kemudian ia pindah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan di waktu itu. Di sana ia belajar pada Abu Bisr Matta ibnu Yunus (Penerjemah) dan tinggal di Baghdad selama 20 tahun. Istana Saif al-Daulah adalah tempat pertemuan ahli-ahli ilmu pengetahuan dan falsafat di waktu itu. Dalam umur 80 tahun al-Farabi wafat di Aleppo pada tahun 950 M. Ia berkeyakinan bahwa agama dan falsafat tidak bertentangan malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.
Isi-isi penting ajaran falsafatnya akan diuraikan di bawah ini:
1.    Falsafat Emanasi/Pancaran
Dengan falsat ini menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari yang satu. Tuhan bersifat Mahasatu, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak, maha sempurna dan tidak berhajat pada apapun.Tuhan sebagai akal, berfikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul suatu maujud yang lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dngan pemikiran itu timbul wujud kedua yang juga mempunyai substansi. Ia disebut akal pertama, yang tidak bersifat materi sedangkan wujud kedua ini berfikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini, timbullah wujud ketiga disebut akal kedua.
Wujud kedua atau akal pertama itu juga berfikir tentang dirinya dan dari situlah timbul langit pertama.
Wujud ketiga/Akal kedua
۩   Tuhan = Wujud keempat/akal ketiga
۩   Dirinya = (bintang-bintang)
Wujud keempat/Akal ketiga
۩   Tuhan = Wujud kelima/akal keempat
۩   Dirinya = (Saturnus)
Wujud kelima/Akal keempat
۩   Tuhan = Wujud keenam/akal kelima
۩   Dirinya = (Jupiter)
Wujud keenam/Akal kelima
۩   Tuhan = Wujud ketujuh/akal keenam
۩   Dirinya = (Mars)
Wujud ketujuh/Akal keenam
۩   Tuhan = Wujud kedelapan/akal ketujuh
۩   Dirinya = (Matahari)
Wujud kedelapan/Akal ketujuh
۩   Tuhan = Wujud kesembilan/akal kedelapan
۩   Dirinya = (Venus)
Wujud kesembilan/Akal kedelapan
۩   Tuhan = Wujud kesepuluh/akal kesembilan
۩   Dirinya = (Mercury)
Wujud kesepuluh/Akal kesembilan
۩   Tuhan = Wujud kesebelas/akal kesepuluh
۩   Dirinya = (Bulan)
Sebagaimana halnya dengan materi asal memancar dari akal kesepuluh. Sebagaimana Aristoteles, ia juga berpendapat bahwa jiwa mempunyai daya-daya:
1.    Gerak
-      Makan
-      Memelihara
-      Berkembang
2.    Mengetahui
-      Merasa
-      Imajinasi
3.    Berfikir
-      Akal Praktis
-      Akal Teoritis
Daya Berfikir terdiri dari tiga tingkat:
1.    Akal Potensial
2.    Akal Aktual
3.    Akal Mustafad


Abu Ali Husein ibnu Abdllah ibnu Sina
Abu Ali Husein ibnu Abdillah ibnu Sina lahir di Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara ditahun 980 M, orang tuanya berkedudukan tinggi pada pemerintahan Dinasti Samani. Menurut sejarah hidup yang disusun oleh muridnya Jurjani, dari semenjak kecil Ibnu Sina telah mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, matematikakedokteran, hukum, dan lain lain. Setelah orang tuanya meninggal, ia pindah ke Juzjan, suatu kota dekat Laut Kaspia, dan disanalah ia terkenal dengan nama al-Qonun fi al-Tibb. Kemudian ia pindah ke Ray, kota sebelah selatan Teheran dan bekerja untuk Ratu Sayyidah dan anaknya Majd al-Dawlah. Kemudian ia pindah ke Isfahan dan meninggal di tahun 1037 M.   
1.   Falsafat Jiwa
Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang Jiwa, sebagaimana al-Farabi, ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar aka pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama , dan seterusnya sehingga tercapai akal kesepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah malaikuat tertinggi dan akal kesepuluh adalah malaikat jibril.
Menurut Ibnu Sina, akal pertama mempunyai dua sifat :
1.    Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah
2.    Sifat Mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya
     Sebagaimana Aristoteles, Ibnu Sina membagi jiwa tiga bagian :
1.    Jiwa tumbuh-tumbuhan, dengan daya-dayanya:
a.    Makan
b.    Tumbuh
c.    Berkembang biak
2.    Jiwa Binatang, dengan daya-dayanya :
a.    Gerak
b.    Menangkap
-        Menangkap dari luar dengan panca indera
-        Menangkap dari dalam dengan indera-indera dalam :
§   Indera bersama, yang menerima dari segala apa yang ditangkap oleh panca idera
§   Representasi, yang menyimpan segala sesuatu yang diterima oleh indera bersama
§   Imajinasi, yang menyusun apa yang disimpan dalam representasi
§   Estimasi, yang dapat menangkap hal-hal abstrak yang terlepas dari materinya, umpamanya keharusan lari bagi kambing dari kejaran srigala
§   Rekoleksi, yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi
3.    Jiwa Manusia, dengan dua daya:
1.    Praktis, yang hubungannya dengan badan
2.    Teoritis, yang hubungannya dengan hal-hal abstrak, dengan tingkatannya:
a.      Akal materiil, yang semata-mata mempunyai potnsi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
b.      Intellctus in habitu, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak
c.      Akal actual yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak
d.      Akal Mustafad, yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal  abstrak dengan tidak perlu pada daya upaya. 

           2.   Falsafat Wahyu dan Nabi
     Akal mempunyai empat tingkat, dan yang terendah diantaranya ialah akal Materiil, adakalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang oleh Ibnu Sina disebut al-hads, yaitu intuisi. Bentuk akal tertinggi adalah akal yang dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal ini hanya terdapat pada nabi-nabi dan rosul-rosul Allah.
           3.   Falsafat Wujud
Esensi bagi Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat diluar akal. Kalau dikombinasikan antara esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
1.    Esensi  yang tidak mempunyai wujud, atau mumtani yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Misalnya, adanya sekarang ini, juga kosmos lain disamping kosmos yang ada
2.    Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh juga tidak mempunyai wujud, atau Mumkin. Misalnya alam ini yang tadinya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
3.    Esensi yang tidak harus mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud ; esensi dan wujud adalah sama dan satu.

Abu Hamid Muhammad al-Gazali
Abu Hamid Muhammad al-Gazali lahir pada tahun 1059 M di Gazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat Tus di Khurasan, pada masa mudanya ia belajar di Nisyapur, Khurasan yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia islam. Kemudian ia menjadi murid Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyapur dan belajar ilmu teologi, hukum islam, falsafat, logika, sufisme, dan ilmu alam.
Dalam sejarah falsafat islam dikenal bahwaal-Gazali pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Yang timbulnya pertanyaan dalam diri al-Gazali aliran manakah yang betul-betul benar diantara semua aliran itu?.
Sebagaimana dijelaskan dalam bukunya al-munqiz min al-Dalal “Penyelamat dari Kesesatan” ia ingin mencari kebenaran yang sebenarnya. Yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti sepuluh lebih banyak dari tiga.


Kritik Terhadap Filosof-Filosof
Al-Gazali mempelajari falsafat untuk mempelajari apakah pendapat-pendapat yang dikemukaan filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran, yang menurut al-Gazali bahwa argument-argumen yang mereka kemukakan tidak kuat dan bertentangan dengan islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap falsafat. Oleh karena itu ia mengarang bukunya yang berjudul Maqasid al-Falasifah (Pemikiran kaum Filosof) yang diterjemahkan kedalam bahasa latin tahun 1145 M oleh Dominicus Gundissalimus di Toledo dengan judul Logica el Philosofhia Algazalis.
Sebagaimana dengan ilmu al-kalam, dalam falsafat al-Gazali juga mempunyai argument-ergumen yang tidak kuat. Akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang ia cari, ia meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah al-Nizamiah di Bagdad tahun 1095 M dan pergi ke Damaskus bertapa di salah satu menara masjid Umawi. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi, ia kembali ke Tus di tahun 1105 M dan meninggal dithun 1111 M.
Al-Gazali menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut :
1.    Tuhan tidak mempunyai sifat
2.    Tuhan mempunyai substansi dan tidak mempunyai mahiyah
3.    Tuhan tidak mengetahui Juz’iyat (perincian)
4.    Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins
5.    Planet-planet adalah bintang yang begerak dengan kemauan
6.    Hukum alam tidak berubah
7.    Pembangkitan jasmani tidak ada
8.    Alam ini tidak bermula
9.    Alam ini akan kekal
Tiga poin di atas akan membawa kapada kekufuran yaitu :
1.    Alam kekal dalam arti tidak bermula
2.    Tuhan tidak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam
3.    Pembangkitan jasmani tidak ada
Tiga Golongan Manusia
Al-Gazali membagi manusia kedalam tiga golongan :
1.    Kaum Awam, yaitu cara berfikirnya sederhana sekali
2.    Kaum Pilihan, yaitu yang akalnya tajam dan mendalam
3.    Kaum Pendengar


Abu al-Walid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd
Nama lengkap ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd. Lahir di Cordoba pada tahun 1126 M dan berasal mdari keluarga hakim di Andalusia (Spanyol Islam).
Ibnu Rusyd meninggalkan karangan-karangan ilmu hokum Bidayah-al-Mujtahid dan dalam ilmu kedokteran kitab al-Kulliyat. Orang yang pertama memperkenalkan Ibnu Rusyd ke dalam bahasa latin adalah Michael Scott tahun 1230 M, menerjemahkan bukunya syarh al-sama’ dan syarh kitab al-Nafs “Fisika dan Anima” kedalam bahasa Latin. Kelainan dari Ibnu Rusyd dari filosof-filosof islam seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina ialah bahwa Ibnu Rusyd selain ahli filosof-filosof ia juga adalah ahli fikih. Di dunia Islam ia dikenal sebagai orang yang membela kaum filosof dari kritikan al-Gazali dalam Tahafuf al-Falasifah, untuk itulah ia susun bukunya yang bernama Tahafuf al-Tahafut.
1.   Falsafat Tidak Bertentangan Dengan Islam
Menurut Ibnu Rusyd falsafat tidaklah bertentangan dengan islam, bahkan orang islam diwajibkan atau sekurang-kurangnya dianjurkan mempelajarinya. Lebih lanjut Ibnu Rusyd mengatakan bahwa tiap muslim harus percaya terhadap tiga dasar keagamaan yaitu : adanya Tuhan, adanya Rosul dan adanya pembangkitan. Hanya orang yang tidak percaya pada salah satu dari ketiga dasar inilah yang  boleh dicap orang kafir.
2.   Pembelaan Terhadap Filosof-filosof
Pembelaan Ibnu Rusyd terhadap kaum filosof atas kritikan al-Gazali, menuduh kaum filosof menjadi kafir atas pemikiran-pemikiran mereka tentang :
1.    Alam bersifat kekal
2.    Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam ini
3.    Pembangkitan jasmani tidak ada
     Mengenai soal pertama, kaum teolog berpendapat bahwa “alam dijadikan Tuhan” dalam arti “dari tiada menjadi ada”. Pendapat kaum teolog ini menurut Ibnu Rusyd tidak mempunyai dasar syariat yang kuat. Tidak ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari diri-Nya, dan kemudian barulah dijadikan alam. Ini kata Ibnu Rusyd hanyalah merupakan pendapat dan interprestasi kaum teolog.





BAB KEDUA
 MISTISME ISLAM – TASAWUF
Mistisme dalam islam diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisme islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisme yang terdapat dalam agama-agama lain.
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam dapat berada sedekat mungkin dengan Allah SWT.
     Asal Kata Sufi
     Tasawuf berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata Sufi adalah seorang zahid bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (Wafat tahun 150 H) , sedangkan menurut etomologi kata sufi adalah :
1.    Ahl al-sufah, yaitu orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, karena kehilangan harta, mereka tinggal di Masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal (Suffah). Sifat tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat kaum sufi.
2.    Saf, yaitu barisan pertama pada shalat mendapat kemuliaa dan pahala, begitu juga sufi.
3.    Sufi yaitu suci
4.    Sophos kata Yunani yang berarti hikmat.
5.    Suf, yaitu kain yang dibuat ari bulu wol. Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol kasar dan bukan wol halus. Memakai wol kasar diwaktu itu adalah simbol kesederhanaan dan kemiskinan.
Diantara kelima teori di atas, teori nomor limalah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi.
Asal Usul Aliran Sufisme
Teori mengenai munculnya aliran ini dalam islam juga berbeda-beda, antara lain :
1.    Pengaruh Kristen dengan faham menjauhi dunia dan mengasingkan diri dalam biara-biara
2.    Falsafat Mistis Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
3.    Falsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa.
4.    Ajaran Budha dengan faham nirwananya, untuk mencapainya orang harus meninggalkan dunia
5.    Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman
                   Jalan Untuk Dekat Dengan Tuhan
 Untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang berisi stasiun-stasiun yang disebut maqomat. Atau stages dan station dalam istilah inggris buku tasauf tidak selamanya memberikan angka yang sama tentang stasiun stasiun ini. Abu Bakar Muhammad al Kalabadi dalam buku al Ta.aruf li mazhab Ahl al tasauf
·         Tobat – zuhud – sabar – kefakiran – tawadu – takwa – tawakal – rido – cinta – makrifat.
    Abu nasr al sarraj al Tusi menyebut dalam alluma yaitu.
·         tobat – wara – zuhud – kefakiran – sabar –tawakal – kerelaan hati
    Abu Hamid al Gazali dalam ihya Ulumuddin memberikan
·         tobat – sabar – kefakiran – zuhud – tawakal – cinta – makrifat – kerelaan
    Abu al Qasim abd Al Karim al Qusayiri maqomat itu adalah
·         Tobat - wara - zuhud - tawakal - sabar – kerelaan
             Tetapi yang biasa disebut adalah
·         Tobat – zuhud – sabar – tawakal – kerelaan

Al Zuhd dan stasiun stasiun lain
       1 Al- zuhd
       Stasiun yang terpenting adalah bagi seorang calon sufi adalah Zuhud yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kebendaan, sebelum menjadi sufi terlebih dahulu menjadi zahid, sesudah menjadi zahid barulah ia bisa meningkat menjadi sufi. Aliran zuhud timbul pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua hijriyah. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap hidup mewah dari Khalifah dan keluarga serta pembesar pembesar negara
Aliran zuhud ini mulai nyata kelihatan di kufah dan basrah di Irak. Para zahid kufahlah yang pertama sekali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakaian sutra yang dipakai golongsn bani umayah.umpamanya supyan al suri (w 135 h) dan jabir ibn hasyim (w 190 h )
Di basrah sebagai kota yang tenggelam dalam kemewahan. Aliran zuhud mengambil aliran yang paling ekstrim sehingga akhirnya meningkat kepada ajran mistik, Zahid zahid yang terkenal ini ialah Hasan Al basri (w 110 H).
       2. Stasiun-stasiun lainnya
  Tobat. tobat yang dimaksud sufi adalah tobat yang sebenarnya, tobat yang tidak membawa kepada dosa lagi. Diceritakan bahwa seorang sufi sampai 70 kali tobat baru ia mencapai tingkat tobat yang sebenarnya.
  Wara. Ini mengandung arti menjauhi hal hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi, wara adalah meninggalkan segala yang didalamnya terdapat syubhat (keragu-raguan)
  Kefakiran.
·         Tidak meminta lebih daripada apa yang telah ada pada diri kita
·         Tidak meminta rejeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban.
·         Tidak meminta, sungguhpun taka da pada diri kita, kalau diberi diterima tidak
·         meminta tapi tidak menolak
  Sabar
·         Sabar dalam menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan larangannya
·         Menunggu datangnya pertolongan dari Allah
·         Sabar menderita kesabaran. Tidak menunggu datangnya pertolongan
  Tawakal
·         Menyerah kepada kada dan putusan dari Allah.
·         Selamanya berada dalam keadaan tentram.
·         Tidak memikirkan hari esok.
·         Tidak mau makan, karena ada orang yang lebih membutuhkan
·         Percaya pada janji Allah.
·         Menyerah kepada Allah dengan Allah dan karena Allah.
·         Bersikap sebagai telah mati.
  Kerelaan atau ridha
·         Tidak berusaha.
·         Tidak menentang kada kadar tuhan.
·         Menerima kada dan kadar dengan hati senang.
·         Mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tertinggal hanya perasan senang dan gembira.
·         Merasa senang menerima malapetaka seperti merasa senang menerima nikmat

  Al-Mahabbah
  Mahabbah adalah cinta kepada Allah. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah adalah yang berikut.
1  Memeluk kepatuhan kepada tuhan dan membenci sikap melawan     kepadanya
2  Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi
3  Mengosongkan hati dari segala galanya kecuali dari diri yang dikasihi

Menurut al-Sarraj, mahabbah mempunyai tiga tingkat
1  Cinta biasa, yaitu selalu mengingat tuhan lewat zikir
2  Cinta yang siddiq, yaitu yang kenal kepada tuhan pada kebesarannya, pada kekuasaannya, pada ilmunya dan lain-lain.
3  Cinta orang yang ‘arif, yaitu orang yang tahu betul pada tuhan. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada tuhan
  Sufi yang termasyhurdalam mahabbah ialah Rabi’ah al-adawiah (713-801 H) dari basrah dan irak, Menurut riwayat ia adalah seorang budak yang kemudian dibebaskan, diantara ucapan-ucapannya adalah yang berikut.
Aku mengabdi pada tuhan bukan karena takut kepada neraka.. bukan pula karena ingin masuk surga … tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya.
Tuhanku, jika kupuja engkau karena takut kepda neraka bakarlah aku didalamnya; dan jika kupuja Engkau karena mengharapkan surga, jauhkan aku darinya; tetapi jika engkau kupuja semata-mata karena Engkau, maka janganlah sembuyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku

  Al-Ma’rifah
  Sebagaimana dengan mahabbah ma’rifah juga terkadang dipandang sebagai maqam dan terkadang sebagai hal dalam istilah barat adalah gnosis. Bagi al- ma’rifah disebut sebagai maqam. Algazali dalam Ihya memandang bahwa ma’rifah datang sebelum mahabbah, tetapi al-Kalabdi dalam al Ta’aruf li mazhab al-Tasauf, menyebutkan ma’rifah datang sesudah mahabbah. Keduanya merupakan keadaan dekatnya hubungan saorang sufi dengan tuhan
  Dari literature yang diberikan tentang ma’rifah.ma’rifah brarti mengetahui tuhan dengan dekat sehingga hati sanubari dapat melihat tuhan. Oleh karena itu orang orang sufi mengatakan.
1  kalau mata yang terdapat dalam hati manusia terbuka.maka kepalanya akan tertutup dan ketikla itu yang dilihatnya hanya Allah.
2  ma’rifah adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3  Yang dilihat seorang arif baik sewaktu tidur maupun waktu bangun hanyalah Allah.
4  Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya
Dalam tasauf Zunnun al Misrilah (wafat 860 M) yang dipandang sebagai bapak paham ma’rifah menurutnya ada tiga macam pengetahuan tentang tuhan :
1.    Pengetahuan awam; tuhan satu dengan perantaraan upaya syahadat
2.    Pengetahuan ulama: tuhan satu menurut logika akal.
3.    Pengetahuan sufi: tuhan satu dengan perantaraan hati sanubari
  Alat untuk memperoleh ma’rifah, oleh kaum sufi disebut sir,
Menurut al-Qusyairi ada tiga alat dalam tubuh manusia yang dipergunakan sufi dalam hubungan mereka dengan tuhan. Qalb untuk mengetahui sifat sifat Tuhan. Ruh untuk mencintai Tuhan, dan Sir untuk melihat Tuhan, memperoleh ma’rifah merupakan proses yang bersifat kontinu. Makin banyak seseorang sufi memperoleh ma’rifah dari Tuhan makin banyak yang diketahui rahasia rahasia Tuhan ia pun makin dekat dengan tuhan tetapi memperoleh ma’rifah yang penuh tentang Tuhan tidak mungkin, karena manusia bersifat finite, sedang tuhan bersifat infinite





  Al-Fana dan al-Baqa
  Sebelum sufi dapat bersatu denga Tuhan, ia harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan dirinya, ia tak akan dapat bersatu denga tuhan. Penghancuran diri ini dalam tasauf dinamakan dengan fana atau hilang, hancur.
Penghancuran dalam istilah sufi senantiasa diiringa oleh baqa’ atau tetap, terus hidup, fana dan baqa merupakan kembar dua hal ini dapat dilihat dari faham faham sufi berikut:
-      Jika kejahilan (iqnorance) dari seseorang hilang, yang akan tinggal ialah pengetahuan.
-      Jika seseorang dapat menghilangkan maksiatnya, yang akan tinggal ialah takwanya.
-      Siapa yang menghancurkan sifat sifat (akhlak) yang buruk, tinggal baginya sifat-sifat yang baik. Sifat-sifat yang baik ini kemudian meningkat menjadi sifat-sifat Tuhan.
-      Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya mempunyai sifat-sifat Tuhan.
  Fana yang dicari orang sufi ialah penghancuran diri yaitu al-fana al-nafs maksudnya ialah hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar.
  Kalau seorang sufi telah mencapai al-fana al-nafs yaitu kalau wujud jasmaninya taka da lagi ( tak disadarinya lagi) makanyang akan tinggal adalah wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan tuhan.
Dalam sejarah tasauf, Abu Yazid al-Bustami-lah (wafat 874 M) yang dipandang sufi pertama yang menimbulkan fana dan baqa ini.

  Al-Ittihad
  Yang dimaksud dengan ittihad kelihatannya ialah satu tingkatan dalam tasauf dimana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, Satu tingkatan dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu.   Sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata; Hai aku atau yaa anaa. Dalam ittihad kata A.R. al-Badawi yang  dilihat hanya satu wujud, sesungguhnya sebenarnya ada dua wujud yang berpisah satu dari yang lain. Karena yang dilihat dan dirasakann hanya satu wujud.maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai dan yang dicintai atau tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu.
  Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya Abu Yazid-lah yang pertama sekali menimbulkan faham fana dan baqa dalam tasauf.
  Dengan fana Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi meninggalkan Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat dengan Tuhan. Itu dapat dilihat dari syatahat . syatahat adalah kata kata yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia mulai berada di pintu gerbang ittihad
  Al-Hulul
  Paham hulul dalam tasauf ditimbulkan oleh Husain ibn Mansur al Hallaj (858-922 M), ia dihukum bunuh dan setelah setelah badannya tak bernyawa lagi ia dibakar dan abunya dibuang ke sungai tigris.
Tuduhan-tuduha yang dihadapkan kepadanya:
1.    ia mempunya hubungan dengan gerakan Qaramat, ( carmatians) satu sekte syi’ah yang dibentuk oleh Hamdan ibn Qarmat di akhir abad ke-9 M. Sekte ini mempunyai faham komunis (harta benda dan perempuan-terdiri dari kaum petani) mengadakan terror, menyerang mekkah tahun 930 M. merampas hajar aswad yang dikembalikan oleh kaum fatimi di tahun 951.
2.    Keyakinan para pengikutnya bahwa ia mempunyai sifat ketuhanan. Pengi-kutnya di kalangan rakyat jelata besar.
3.    Ucapannya. Ana al Haq: aku yang maha benar.
4.    Ibadah haji tidak wajib.
 
  Hulul menurut keterangan Abu Nasr Al-Tusi dalam al Luma ialah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dilenyapkan.
  Menurut al Hallaj, Allah kelihatannya mempunyai dua natur atau sifat dasar; ketuhanan, lahut dan kemanusiaan, nasut. Ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian makhluk dalam bukunya yang berjudul at-tawasin.
  Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat dirinya sendiri (tajali al-haq linafsihi), dalam kesendiriannya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan dirinya sendiri, dialog yang didalamnya tak terdapat kata-kata ataupun huruf-huruf yang dilihat hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya.

  Wahdat al-Wujud
  Wahdat al-Wujud berarti kesatuan wujud, unity of existence, paham ini adalah kelanjutan dari paham hulul, dan dibawa oleh Muhi al-Din ibnu al- Arabi yang lahir di Murcia sepanyol, di tahun 1194 M, masuk aliran sufi di tahun 1194 M, di Tunisia, di tahun 1202 ia pergi ke mekah dan meninggalkan damaskus tahun di tahun 1240 M. ia mengarang buku lebih dari 200 buku, bukunya yang termasyhur adalah fusus al-Hikam.
  Dalam paham wahdat al-Wujud nasut yang ada dalam al-Hulul diubah oleh Ibn al-Arabi menjadi khalq atau makhluk dan lahut menjadi haq atau Tuhan. Khalq dan Haq adalah dua aspek bagi tiap sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut Khalq dan aspek sebelah dalam disebut Haq, khalq dan Haq merupakan sinonim dari al-Ard dan alJauhar, dan dari al-Zahir, lahir, luar dan al-Batin, dalam.
  Menurut paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek, aspek luar, yang merupakan ‘ard dan Khalq yang mempunyai sifat kemakhlukan; dan aspek dalam yang merupakan jauhar da Haq yang mempunyai sifat ketu-hanan.
  Filsafat ini timbul dari paham  bahwa Allah sebagaimana yang diterangkan dalam uraian tentang Hulul, ingin melihat diri-Nya diluar diri-Nya dan oleh karena itu dijadikanlah alam ini,maka alam ini merupakan bagi Alloh.  


                  Manfaat bagi pembaca atau penulis
  Seteelah membaca dan disamakan dengan penerangan dari bapak dosen Alhamdulillah banyak sekali manfaatnya buat saya khusus dalam bidang ilmu tentang tasauf ini, saya memamg sering mendengar tentang tasauf, tapi belum mendalam, Dan yang sangat bermanfaat bagi saya dari buku tasauf ini adalah ada keinginan untuk merubah diri jadi lebih baik lagi, banyak beribadah, dan menjaga hati dari sifat-sifat tercela supaya menjadi orang yang bersih dari dosa, dan dicinta oleh Allah swt,

  Komentar kritis
  Kalo menurut saya pribadi yang baru mempelajari tentang tasauf dari isi buku ini banyak yang bermanfaatnya, tapi ada juga hal-hal yang janggal dan harus dilengkapi lagi dalam penjelasannya mungkin karena bukunya aga kecil jadi keterangannya sedikit, dan menurut saya tentang isi buku ini sama dengan yang diterangkan Bapak Dosen dan insa alloh benar, karena ditunjang dengan dalil-dalil al-qur’an dan hadits nabi Muhammad saw, juga tidak bertentangan dengan ajaran islam dan tujuannya untuk kebaikan bukan untuk kesombongan dan kekuatan, karena ada orang yang sudah mencapai derajat tertentu dan bisa melakukan yang aneh lalu ia jadi sombong, tapi kalo sufi yang sebenarnya adalah yang benar-benar ingin dekat dengan Allah dan ingin mencari rido-Nya.

  Kesimpulan
  Falsafah islam bila dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, banyak dipengaruhi oleh bangsa yunani,seiring dengan bertambahnya zaman islampun semakin meluas pada abad ke-7 oleh khalifah bani Umayah A Malik ibnu Marwan khalifah ke-5 dari bani Umayah, Alexandriya, Antioch dan Bactra kemudian menjadi pusat ilmu pengetahuan dan falsafah yunani  
Di tahun 740-828 M banyak bermunculan ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti Muhammad, Ahmad dan Hasan, ketiganya bersaudara dan ahli matematika. Al-Asma, yang mengarang buku ilmu pengetahuan alam, Jabir dalam ilmu Kimia, al-Biruni dalam ilmu Astronomi, Geografi, Sejarah dan Matematika, Ibnu al-Haitam dalam ilmu Optik
Tokoh-tokoh falsafah islam yaitu:
1.Ya’kub ibn Ishaq al-Kindi, terkenal dengan falsafah ketuhanan dan falsafah   jiwa.
2. Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria al-Razi terkenal dengan falsafah lima  kekal,    rohdan materi dan rasio dan agama.
3. Abu Nasr Muhammad  al-Farabi terkenal dengan falsafah emanasi, falsafah kenabian dan teori politik.
4. Abu Ali husen ibnu Abdillah ibnu Sina terkenal dengan falsafat jiwa, falsafat wahyu dan nabi dan falsafaht wujud.
5. Abu Hamid Muhammad al-Gazali karangannya adalah kritik terhadap filosof filosof, dan tiga golongan manusia.
6. Abu al-Walid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd terkenal dengan falsafat  tidak bertentangan dengan islam dan pembelaan terhadap para filosof.
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam dapat berada sedekat mungkin dengan Allah SWT.
Tasawuf berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata Sufi adalah seorang zahid bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (Wafat tahun 150 H) , sedangkan menurut etomologi kata sufi adalah : Ahli assufah, saf pertama dalam shalat, sufi yaitu suci, sofos yaitu hikmat dan suf kain yang dibuat dari bulu wol.
Dalam ilmu tasauf untuk dekat dengan Tuhannya seorang sufi harus melaui stasiun-staiun atau maqamat, antara lain diantaranya tobat, zuhud, sabar, tawakal dan kerelaan atau ridha, Wallahu a’lam.










































































































































































































































































Komentar

Postingan Populer