FALSAFAT DAN MISTISME DALAM ISLAM DAN TASAUF
BAB PERTAMA
KONTAK
PERTAMA ANTARA ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN, SERTA FALSAFAT YUNANI
Alexander yang Agung mengalahkan Darius di tahun 331 S.I
(Sebelum Islam) di Arbela (sebelah timur Tigris). Alexander datang dengan tidak
menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, tetapi sebaliknya ia berusaha
untuk menyatukan kebudayaan Yunani dengan Persia. Ia sendiri mulai berpakaian
secara Persia dan orang – orang Persia banyak yang diangkatnya menjadi
pengiring – pengiringnya. Ia kawin dengan Statira, anak Darius dan pada waktu
itu juga 24 dari jendral – jendralnya dan 10.000 prajurit kawin atas anjurannya
dengan wanita – wanita Persia di Susa. Selain dari mengadakan hubungan –
hubungan perkawinan ia dirikan pula kota – kota dan koloni – koloni yang
penduduknya diatur begitu rupa sehingga terdiri dari kedua golongan Yunani
Persia. Setelah Alexander meninggal kerajaannya yang besar terbagi tiga :
Macedonia di Eropa, Kerajaan Seleucid (Seleucus) di Asia dengan kota – kota
penting Antioch di Siria, Seleucia de Mesopotamia dan Bactra di Persia sebelah
timur. Ptolemeus dan Seleucusberusaha meneruskan politix Alexander untuk
menyatukan kedua peradaban Yunani dan Iran. Sungguhpun usaha itu tak berhasil,
kebudayaan dan peradaban Yunani meninggalkan bekas besar di daerah – daerah
ini. Bahasa adminintrasi di Mesir dan Syiria ialah bahasa Yunani, sesudah masuknya
Islam kedalam kedua daerah itu dan baru hanya ditukar dengan bahasa arab diabad
ke-7 M oleh Khalifah Bani Umayah A. Malik Ibnu Marwan (685 – 70 M), Khalifah
ke-5 dari Bani Umayyah. Alexandria, Antioch dan Bactra kemudian menjadi pusat
ilmu pengetahuan dan falsafat Yunani.
Di abad ke-3 M pusat – pusat kebudayaan
Yunani ini ditambah dengan kota Jundishapur tidak jauh dari Baghdad (didirikan
pada tahun 762 M). Ketika raja Bani Abbas al-Mansur sakit (tahun 765 M), atas
nasihat mentrinya , Khalid ibnu Barmak (seorang Persia), kepala rumah sakit
Jundishapur, Girgis Ibnu Bukhyishu dipanggil untuk mengobatinya. Khalid ibnu
Barmak sendir berasal dari Bactra. Keluarga Barmak dikenal sebagai keluarga
yang gemar pada ilmu pengetahuan falsafat dan condong pada faham Muktazilah.
Harun Al-Rasyid menjadi Khalifah di tahun
786 M, dan sebelumnya ia belajar di Persia dibawah asuhan Yahya Ibnu Khalid
Ibnu Barmak dan dengan demikian banyak dipengaruhioleh kegemaran keluarga
Barmak pada ilmu pengetahuan dan falsafat. Dibawah pemerintahannya,
penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun
dimulai. Buku-buku itu diterjemahkan kedalam bahasa Siria, bahasa ilmu
pengetahuan di Mesopotamia waktu itu, kemudian baru kedalam bahasa Arab.
Penerjemah -
penerjemah termashur dari zaman itu antara lain:
1. Hunayn Ibnu Ishaq (wafat 873 M), seorang
Kristen yang pandai berbahasa Arab dan Yunani (pernah berknjung ke Yunani), ia
terjemahkan 20 buku Galen ke dalam bahasa siria dan 14 buku lainnya ke dalam
bahasa Arab. Dalam keterangan Hunayn mempunyai 90 pembantu dan murid dalam
penerjemehan ini.
2.
Anak
Hunayn yang bernama Ishaq (wafat 910 M)
3.
Sabit
Ibnu Qurra (825 – 901 M), sorang penyembah bintang
4.
Qusta
Ibnu Luqa, seorang Kristen
5.
Hubays,
sorang kemenakan Huayn
6.
Abu
Bisr Matta ibnu Yunus (wafat 939 M) juga seorang Kristen.
Dengan kegiatan penerjemahan ini, sebagian
besar kerangan - karangan
Aristoteles,
Plato, Neoplatonisme, Galen serta karangan – karangan dalam ilmu
Kedokteran
dapat dibaca oleh alim ulama islam. Terutama ilmu tentang falsafat banyak
menarik perhatian kaum Muktazilah, sehingga mereka banyak dipengaruhioleh
pemujaan daya akal yang terdapat dalam falsafat yunani. Abu al-Huzail al-Allaf,
Ibrahim al-Nazzam, Bisr ibnu al-Mu’tamir dan lainnya banyak membaca buku-buku
falsafat.
Tidak lama kemudian timbullah di kalangan
umat islam sendiri filosof-filosof dan ahli-ahli ilmu pengetahuan, seperti Abul
Abbas al-Sarkasyi (ilmu kedokteran) abad ke-9 M, al-Razi (abad ke-10 M) dan
lain-lain. Filosof islam yang pertama muncul di abad ke-9 M seperti al-Kindi,
al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina dan lainnya. Filosof-filosof ini banyak
dipengaruhi oleh filosof-filosof yunani terutama Aristoteles, Palto dan
Plotinus.
Di tahun 740-828 M banyak bermunculan
ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti Muhammad, Ahmad dan Hasan, ketiganya
bersaudara dan ahli matematika. Al-Asma, yang mengarang buku ilmu pengetahuan
alam, Jabir dalam ilmu Kimia, al-Biruni dalam ilmu Astronomi, Geografi, Sejarah
dan Matematika, Ibnu al-Haitam dalam ilmu Optik.
1.
Ya’kub ibnu Ishaq al-Kindi
Ya’kub ibnu Ishaq al-Kindi berasal dari
Kindah di Yaman tetapi lahir di Kufah (Iraq) tahun 796 M. Orang tuanya adalah
gubernurdari Basrah. Setelah dewasa ia pergi ke Baghdad dan mendapat lindungan
dari Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) dan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M).
Al-Kindi menganut aliran Muktazilah dan kemudian belajar falsafat.
Buku – buku karangan Ya’kub ibnu al-Kindi
berjumlah 241 buku falsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu
jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya.
1.
Falsafat Ketuhanan
Selain ahli ilmu filosof, ia juga ahli ilmu
pengetahuan, dan ilmu pengetahuan ia bagi jadi dua bagian :
1. Pengetahuan Ilahi, dasar pengetahuan ini
ialah keyakinan
2. Pengetahuan manusiawi, dasar pengetahuan ini
ialah pemikiran.
Falsafat baginya adalah pengetahuan tentang
yang benar. Di sinilah terlihat pengertian falsafat dan agama. Tujuan agama
adalah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, falsafat itu pula lah
tujuannya. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal, dan falsafat juga
mempegunakan akal. Dan falsafat yang paling tinggi adalah falsafat tentang
Tuhan, sebagaimana perkataan al-Kindi “ falsafat yang termulia dan tertinggi
derajatnya adalah falsafat utama, yaitu tentang ilmu yang benar pertama, yang
menjadi sebab bagi segala yang benar”.
Kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada
dalam akal dengan apa yang ada di luar akal. Dalam alam terdapat beberapa benda
yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Yang terpenting bagi falsafat adalah
hakikat yang terdapat dalam benda itu yaitu kulliyat.
Tiap tiap benda mempunyai dua hakikat :
-
Hakikatnya
sebagai juz’I dan ini disebut aniyah
-
Dan
hakikatnya sebagai kulli dan ini
disebut sebagai mahiyah yaitu hakikat
yang bersifat universal dalam bentuk genus
dan species.
Sesuai dengan faham yang ada dalam islam,
Tuhan bagi al-Kindi adalah pencipta dan bukan penggerak pertama sebagaimana
pendapat Aristoteles.
2.
Falsafat Jiwa
Roh adalah urusan Tuhan dan bukan urusan
manusia, Walaupun demikian filosof-filosof islam membahas ini berdasar pada
falsafat tentan roh yang mereka jumpai dalam falsafat Yunani.
Roh menurut al-Kindi tidak tersusun (simple,
sederhana) tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansinya
berasal dari substansi Tuhan. Hubungannya dengan Tuhan sama halnya dengan
cahaya dan matahari.
Roh lain dari badan dan mempunyai wujud
tersendiri, argumen / alasan yang dikeluarkan al-Kindi tentang perbedaan roh
dan badan ialah keadaan badan mempunyai hawa nafsu dan sifat pemarah, sedangkan
roh menentang keinginan hawa nafsu.
Roh bersifat kekal dan tidak hancur seperti
hancurnya badan, karena substansinya berasal dari Tuhan. Selama dalam badan,
roh tidak memperoleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak
sempurna. Setelah berpisah dengan badan, barulah roh mendapatkan kesenangan
sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna.
Jiwa mempunyai tiga daya:
·
Daya
Nafsu (appetive)
·
Daya
Pemarah (irascible)
·
Daya
Berfikir (Cognitive faculty)
Menurut al-Kindi ada
tiga macam akal :
·
Akal
yang bersifat Potensial
·
Akal
yang telah keluar dari sifat potensial menjadi actual
·
Akal
yang telah mencapai kedua dari aktualitas
Akal yang bersifat potensial tidak bisa
mempunyai sifat aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar.
Oleh karena itu menurut al-Kindi ada satu lagi akal yang mempunyai wujud di
luar roh manusia (akal yang selamanya dalam aktualitas) ialah yang membuat akal
yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi actual, sifat-sifat akal ini
:
1. Merupakan akal pertama
2. Selamanya dalam aktualitas
3. Merupakn species
dan genus
4. Membuat akal potensial menjadi actual
berfikir
5. Tidak sama dengan akal potensial
2.
Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi
Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi
lahir di Ray, suatu kota dekat Teheran, tahun 863 M dan wafat pada tahun 925 M.
Ia terkenal di barat dengan nama Rhazes dari
buku-bukunya. Karangannya yang terkenal ialah “tentang cacar dan tampak” yang
diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih
dicetak untuk kali ke empat puluhnya. Al-Hawi
merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20
jilid, dan mengandung ilmu-ilmu kedokteran Yunani, Siria dan Arab. Di tahun
1279 M ensiklopedia ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh seorang Yahudi
di Sisilia bernama Faraj ibni Salim, semenjak 1486 M ensiklopedia ini
berkali-kali dicetak dan dipakai Eropa sampai abad ke-17 M.
1.
Falsafat Lima Kekal
Falsafatnya terkenal dengan doktrin Lima
yang Kekal : Tuhan, Jiwa Universal, Materi Pertama, Ruang Absolut dan Zaman
Absolut.
Mengenai yang terakhir ia membuat perbedaan
antara zaman mutlak dan zaman terbatas yaitu antara al-dahr, duration dan waqt,
time. Yang pertaman kekal dalam arti tidak bermula dan tak berakhir, dan
yang kedua disifati oleh angka. Bagi benda kelima hal ini ada :
1. Materi
2. Ruang
3. Zaman
4. Diantara benda-benda ada yang hidup dan oleh
karena itu perlu ada roh, dan diantara yang hidup ada pula yang berakal yang
dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur.
5. Semua ini perlu pada pencipta yang Maha
bijaksanalagi Mahamengetahui.
Dua dari yang Lima Kekal itu hidup dan aktif, Tuhan dan
roh. Satu daripadanya tidak hidup dan pasif, yaitu materi. Dua lainnya tidak
hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif
yaitu ruang dan masa.
2.
Roh dan Materi
Menurut al-Razi, Tuhan pada mulanya tidak berniat
membuat alam ini. Tetapi pada suatu ketika roh tertarik pada materi pertama,
bermain dengan materi pertama itu, tetapi materi pertama berontak. Tuhan datang
menolong roh dengan membentuk alam ini dalam susunan yang kuat sehingga roh
dapat mencari kesenanga materi di dalamnya.
3. Roh
dan Materi
Al-Razi adalah seorang
rasionalis yang hanya percaya pada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu
dan perlunya nabi-nabi. Ia berkeyakinan bahwa akal manusia kuat untuk
mengetahui yang baik serta apa yang buruk, untuk tahu pada Tuhan dan untuk
mengatur hidup manusia di dunia ini.
Al-Razi adalah filosof yang
berani mengeluarkan pendapat-pendapat walaupun itu bertentangan dengan faham
yang dianut umat islam :
1. Tidak percaya pada wahyu
2. Qur’an bukan mu’jizat
3. Tidak percaya para nabi
4. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak
bermuladantidak berakhir selain Tuhan
3.Abu Nasr Muhammad
al-Farabi
Abu Nasr Muhammad al-Farabi
lahir di Wasij, desa di Farab (Transoxania) tahun 870 M, menurut keterangan ia
berasal dari Turki dan orang tuanya adalah seorang jendral. Dari Farab kemudian
ia pindah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan di waktu itu. Di sana ia belajar
pada Abu Bisr Matta ibnu Yunus (Penerjemah) dan tinggal di Baghdad selama 20
tahun. Istana Saif al-Daulah adalah tempat pertemuan ahli-ahli ilmu pengetahuan
dan falsafat di waktu itu. Dalam umur 80 tahun al-Farabi wafat di Aleppo pada
tahun 950 M. Ia berkeyakinan bahwa agama dan falsafat tidak bertentangan
malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.
Isi-isi penting ajaran
falsafatnya akan diuraikan di bawah ini:
1. Falsafat Emanasi/Pancaran
Dengan falsat ini
menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari yang satu. Tuhan bersifat
Mahasatu, tidak berubah, jauh dari materi, jauh dari arti banyak, maha sempurna
dan tidak berhajat pada apapun.Tuhan sebagai akal, berfikir tentang diri-Nya,
dan dari pemikiran ini timbul suatu maujud yang lain. Tuhan merupakan wujud
pertama dan dngan pemikiran itu timbul wujud kedua yang juga mempunyai
substansi. Ia disebut akal pertama, yang tidak bersifat materi sedangkan wujud
kedua ini berfikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini, timbullah
wujud ketiga disebut akal kedua.
Wujud kedua atau akal
pertama itu juga berfikir tentang dirinya dan dari situlah timbul langit
pertama.
Wujud ketiga/Akal kedua
۩ Tuhan = Wujud keempat/akal ketiga
۩ Dirinya = (bintang-bintang)
Wujud keempat/Akal ketiga
۩ Tuhan = Wujud kelima/akal keempat
۩ Dirinya = (Saturnus)
Wujud kelima/Akal keempat
۩ Tuhan = Wujud keenam/akal kelima
۩ Dirinya = (Jupiter)
Wujud keenam/Akal kelima
۩ Tuhan = Wujud ketujuh/akal keenam
۩ Dirinya = (Mars)
Wujud ketujuh/Akal keenam
۩ Tuhan = Wujud kedelapan/akal ketujuh
۩ Dirinya = (Matahari)
Wujud kedelapan/Akal
ketujuh
۩ Tuhan = Wujud kesembilan/akal kedelapan
۩ Dirinya = (Venus)
Wujud kesembilan/Akal
kedelapan
۩ Tuhan = Wujud kesepuluh/akal kesembilan
۩ Dirinya = (Mercury)
Wujud kesepuluh/Akal kesembilan
۩ Tuhan = Wujud kesebelas/akal kesepuluh
۩ Dirinya = (Bulan)
Sebagaimana halnya dengan
materi asal memancar dari akal kesepuluh. Sebagaimana Aristoteles, ia juga
berpendapat bahwa jiwa mempunyai daya-daya:
1. Gerak
- Makan
- Memelihara
- Berkembang
2. Mengetahui
- Merasa
- Imajinasi
3. Berfikir
- Akal Praktis
- Akal Teoritis
Daya Berfikir terdiri dari
tiga tingkat:
1. Akal Potensial
2. Akal Aktual
3. Akal Mustafad
Abu
Ali Husein ibnu Abdllah ibnu Sina
Abu Ali Husein ibnu
Abdillah ibnu Sina lahir di Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat
Bukhara ditahun 980 M, orang tuanya berkedudukan tinggi pada pemerintahan
Dinasti Samani. Menurut sejarah hidup yang disusun oleh muridnya Jurjani, dari
semenjak kecil Ibnu Sina telah mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di
zamannya, seperti fisika, matematikakedokteran, hukum, dan lain lain. Setelah
orang tuanya meninggal, ia pindah ke Juzjan, suatu kota dekat Laut Kaspia, dan
disanalah ia terkenal dengan nama al-Qonun fi al-Tibb. Kemudian ia pindah ke
Ray, kota sebelah selatan Teheran dan bekerja untuk Ratu Sayyidah dan anaknya
Majd al-Dawlah. Kemudian ia pindah ke Isfahan dan meninggal di tahun 1037
M.
1. Falsafat
Jiwa
Pemikiran terpenting yang
dihasilkan oleh Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang Jiwa, sebagaimana
al-Farabi, ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar aka pertama,
dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama , dan seterusnya
sehingga tercapai akal kesepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh memancar segala
apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah
malaikuat tertinggi dan akal kesepuluh adalah malaikat jibril.
Menurut Ibnu Sina, akal
pertama mempunyai dua sifat :
1. Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari
Allah
2. Sifat Mungkin wujudnya jika ditinjau dari
hakikat dirinya
Sebagaimana
Aristoteles, Ibnu Sina membagi jiwa tiga bagian :
1. Jiwa tumbuh-tumbuhan, dengan daya-dayanya:
a. Makan
b. Tumbuh
c. Berkembang biak
2. Jiwa Binatang, dengan daya-dayanya :
a. Gerak
b. Menangkap
-
Menangkap
dari luar dengan panca indera
-
Menangkap
dari dalam dengan indera-indera dalam :
§ Indera bersama, yang menerima dari segala
apa yang ditangkap oleh panca idera
§ Representasi, yang menyimpan segala sesuatu
yang diterima oleh indera bersama
§ Imajinasi, yang menyusun apa yang disimpan
dalam representasi
§ Estimasi, yang dapat menangkap hal-hal
abstrak yang terlepas dari materinya, umpamanya keharusan lari bagi kambing
dari kejaran srigala
§ Rekoleksi, yang menyimpan hal-hal abstrak
yang diterima oleh estimasi
3. Jiwa Manusia, dengan dua daya:
1. Praktis, yang hubungannya dengan badan
2. Teoritis, yang hubungannya dengan hal-hal
abstrak, dengan tingkatannya:
a. Akal materiil, yang semata-mata mempunyai
potnsi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
b. Intellctus
in habitu, yang telah mulai dilatih untuk berfikir
tentang hal-hal abstrak
c. Akal actual yang telah dapat berfikir
tentang hal-hal abstrak
d. Akal Mustafad, yaitu akal yang telah sanggup
berfikir tentang hal-hal abstrak dengan
tidak perlu pada daya upaya.
2.
Falsafat Wahyu dan Nabi
Akal mempunyai empat tingkat, dan yang terendah diantaranya
ialah akal Materiil, adakalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal
materiil yang besar lagi kuat, yang oleh Ibnu Sina disebut al-hads, yaitu intuisi. Bentuk akal tertinggi adalah akal yang
dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan dengan mudah dapat
menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal ini hanya terdapat pada nabi-nabi
dan rosul-rosul Allah.
3. Falsafat Wujud
3. Falsafat Wujud
Esensi
bagi Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat diluar akal. Kalau
dikombinasikan antara esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
1. Esensi
yang tidak mempunyai wujud, atau mumtani
yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Misalnya, adanya sekarang ini, juga
kosmos lain disamping kosmos yang ada
2. Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh
juga tidak mempunyai wujud, atau Mumkin. Misalnya
alam ini yang tadinya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi
tidak ada.
3. Esensi yang tidak harus mempunyai wujud. Di
sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud ; esensi dan wujud adalah sama dan
satu.
Abu Hamid Muhammad
al-Gazali
Abu Hamid Muhammad
al-Gazali lahir pada tahun 1059 M di Gazaleh suatu kota kecil yang terletak di
dekat Tus di Khurasan, pada masa mudanya ia belajar di Nisyapur, Khurasan yang
pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia islam. Kemudian
ia menjadi murid Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah
al-Nizamiah Nisyapur dan belajar ilmu teologi, hukum islam, falsafat, logika,
sufisme, dan ilmu alam.
Dalam sejarah falsafat
islam dikenal bahwaal-Gazali pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Yang
timbulnya pertanyaan dalam diri al-Gazali aliran manakah yang betul-betul benar
diantara semua aliran itu?.
Sebagaimana dijelaskan
dalam bukunya al-munqiz min al-Dalal
“Penyelamat dari Kesesatan” ia ingin mencari kebenaran yang sebenarnya. Yaitu
kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti sepuluh
lebih banyak dari tiga.
Kritik
Terhadap Filosof-Filosof
Al-Gazali mempelajari
falsafat untuk mempelajari apakah pendapat-pendapat yang dikemukaan
filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran, yang menurut al-Gazali bahwa
argument-argumen yang mereka kemukakan tidak kuat dan bertentangan dengan
islam. Akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap falsafat. Oleh karena itu
ia mengarang bukunya yang berjudul Maqasid
al-Falasifah (Pemikiran kaum Filosof) yang diterjemahkan kedalam bahasa
latin tahun 1145 M oleh Dominicus Gundissalimus di Toledo dengan judul Logica el Philosofhia Algazalis.
Sebagaimana dengan ilmu al-kalam, dalam falsafat al-Gazali
juga mempunyai argument-ergumen yang tidak kuat. Akhirnya dalam tasawuflah ia
memperoleh apa yang ia cari, ia meninggalkan kedudukannya yang tinggi di
Madrasah al-Nizamiah di Bagdad tahun 1095 M dan pergi ke Damaskus bertapa di
salah satu menara masjid Umawi. Setelah bertahun-tahun mengembara sebagai sufi,
ia kembali ke Tus di tahun 1105 M dan meninggal dithun 1111 M.
Al-Gazali menyalahkan
filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut :
1.
Tuhan
tidak mempunyai sifat
2.
Tuhan
mempunyai substansi dan tidak mempunyai mahiyah
3.
Tuhan
tidak mengetahui Juz’iyat (perincian)
4.
Tuhan
tidak dapat diberi sifat al-jins
5.
Planet-planet
adalah bintang yang begerak dengan kemauan
6.
Hukum
alam tidak berubah
7.
Pembangkitan
jasmani tidak ada
8.
Alam
ini tidak bermula
9.
Alam
ini akan kekal
Tiga
poin di atas akan membawa kapada kekufuran yaitu :
1.
Alam
kekal dalam arti tidak bermula
2.
Tuhan
tidak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam
3.
Pembangkitan
jasmani tidak ada
Tiga
Golongan Manusia
Al-Gazali membagi manusia kedalam tiga
golongan :
1.
Kaum
Awam, yaitu cara berfikirnya sederhana sekali
2.
Kaum
Pilihan, yaitu yang akalnya tajam dan mendalam
3.
Kaum
Pendengar
Abu al-Walid Muhammad ibnu
Muhammad ibnu Rusyd
Nama
lengkap ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd. Lahir
di Cordoba pada tahun 1126 M dan berasal mdari keluarga hakim di Andalusia
(Spanyol Islam).
Ibnu
Rusyd meninggalkan karangan-karangan ilmu hokum Bidayah-al-Mujtahid dan dalam ilmu kedokteran kitab al-Kulliyat. Orang yang pertama
memperkenalkan Ibnu Rusyd ke dalam bahasa latin adalah Michael Scott tahun 1230
M, menerjemahkan bukunya syarh al-sama’
dan syarh kitab al-Nafs “Fisika dan Anima” kedalam bahasa Latin. Kelainan
dari Ibnu Rusyd dari filosof-filosof islam seperti al-Kindi, al-Farabi, dan
Ibnu Sina ialah bahwa Ibnu Rusyd selain ahli filosof-filosof ia juga adalah
ahli fikih. Di dunia Islam ia dikenal sebagai orang yang membela kaum filosof
dari kritikan al-Gazali dalam Tahafuf
al-Falasifah, untuk itulah ia susun bukunya yang bernama Tahafuf
al-Tahafut.
1. Falsafat
Tidak Bertentangan Dengan Islam
Menurut Ibnu Rusyd falsafat
tidaklah bertentangan dengan islam, bahkan orang islam diwajibkan atau
sekurang-kurangnya dianjurkan mempelajarinya. Lebih lanjut Ibnu Rusyd
mengatakan bahwa tiap muslim harus percaya terhadap tiga dasar keagamaan yaitu
: adanya Tuhan, adanya Rosul dan adanya pembangkitan. Hanya orang yang tidak
percaya pada salah satu dari ketiga dasar inilah yang boleh dicap orang kafir.
2. Pembelaan
Terhadap Filosof-filosof
Pembelaan
Ibnu Rusyd terhadap kaum filosof atas kritikan al-Gazali, menuduh kaum filosof
menjadi kafir atas pemikiran-pemikiran mereka tentang :
1. Alam bersifat kekal
2. Tuhan tidak mengetahui perincian yang
terjadi di alam ini
3. Pembangkitan jasmani tidak ada
Mengenai
soal pertama, kaum teolog berpendapat bahwa “alam dijadikan Tuhan” dalam arti
“dari tiada menjadi ada”. Pendapat kaum teolog ini menurut Ibnu Rusyd tidak
mempunyai dasar syariat yang kuat. Tidak ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan
pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari diri-Nya, dan
kemudian barulah dijadikan alam. Ini kata Ibnu Rusyd hanyalah merupakan
pendapat dan interprestasi kaum teolog.
BAB
KEDUA
MISTISME ISLAM – TASAWUF
Mistisme dalam islam
diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata
sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisme islam.
Sufisme tidak dipakai untuk mistisme yang terdapat dalam agama-agama lain.
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari
cara dan jalan bagaimana seorang islam dapat berada sedekat mungkin dengan
Allah SWT.
Asal Kata Sufi
Tasawuf
berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata Sufi
adalah seorang zahid bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (Wafat tahun 150 H) ,
sedangkan menurut etomologi kata sufi adalah :
1. Ahl al-sufah, yaitu orang-orang yang ikut
pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, karena kehilangan harta, mereka
tinggal di Masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana
sebagai bantal (Suffah). Sifat tidak
mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia itulah sifat-sifat
kaum sufi.
2. Saf, yaitu barisan pertama pada shalat
mendapat kemuliaa dan pahala, begitu juga sufi.
3. Sufi yaitu suci
4. Sophos kata Yunani yang berarti hikmat.
5. Suf, yaitu kain yang dibuat ari bulu wol.
Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol kasar dan bukan wol halus.
Memakai wol kasar diwaktu itu adalah simbol kesederhanaan dan kemiskinan.
Diantara
kelima teori di atas, teori nomor limalah yang banyak diterima sebagai asal
kata sufi.
Asal Usul Aliran Sufisme
Teori
mengenai munculnya aliran ini dalam islam juga berbeda-beda, antara lain :
1. Pengaruh Kristen dengan faham menjauhi dunia
dan mengasingkan diri dalam biara-biara
2. Falsafat Mistis Pythagoras yang berpendapat
bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing.
3. Falsafat emanasi Plotinus yang mengatakan
bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa.
4. Ajaran Budha dengan faham nirwananya, untuk
mencapainya orang harus meninggalkan dunia
5. Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong
manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan
Atman dengan Brahman
Jalan
Untuk Dekat Dengan Tuhan
Untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi
harus menempuh jalan panjang yang berisi stasiun-stasiun yang disebut maqomat.
Atau stages dan station dalam istilah inggris buku tasauf tidak selamanya
memberikan angka yang sama tentang stasiun stasiun ini. Abu Bakar Muhammad al
Kalabadi dalam buku al Ta.aruf li mazhab Ahl al tasauf
·
Tobat
– zuhud – sabar – kefakiran – tawadu – takwa – tawakal – rido – cinta –
makrifat.
Abu nasr al sarraj al Tusi menyebut dalam
alluma yaitu.
·
tobat
– wara – zuhud – kefakiran – sabar –tawakal – kerelaan hati
Abu Hamid al Gazali dalam ihya Ulumuddin
memberikan
·
tobat
– sabar – kefakiran – zuhud – tawakal – cinta – makrifat – kerelaan
Abu al Qasim abd Al Karim al Qusayiri
maqomat itu adalah
·
Tobat
- wara - zuhud - tawakal - sabar – kerelaan
Tetapi
yang biasa disebut adalah
·
Tobat
– zuhud – sabar – tawakal – kerelaan
Al Zuhd dan stasiun stasiun
lain
1 Al- zuhd
Stasiun yang terpenting adalah bagi
seorang calon sufi adalah Zuhud yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup
kebendaan, sebelum menjadi sufi terlebih dahulu menjadi zahid, sesudah menjadi
zahid barulah ia bisa meningkat menjadi sufi. Aliran zuhud timbul pada akhir
abad pertama dan permulaan abad kedua hijriyah. Aliran ini timbul sebagai
reaksi terhadap hidup mewah dari Khalifah dan keluarga serta pembesar pembesar
negara
Aliran
zuhud ini mulai nyata kelihatan di kufah dan basrah di Irak. Para zahid
kufahlah yang pertama sekali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakaian
sutra yang dipakai golongsn bani umayah.umpamanya supyan al suri (w 135 h) dan
jabir ibn hasyim (w 190 h )
Di
basrah sebagai kota yang tenggelam dalam kemewahan. Aliran zuhud mengambil
aliran yang paling ekstrim sehingga akhirnya meningkat kepada ajran mistik,
Zahid zahid yang terkenal ini ialah Hasan Al basri (w 110 H).
2. Stasiun-stasiun lainnya
Tobat.
tobat yang dimaksud sufi adalah tobat yang sebenarnya, tobat yang tidak membawa
kepada dosa lagi. Diceritakan bahwa seorang sufi sampai 70 kali tobat baru ia
mencapai tingkat tobat yang sebenarnya.
Wara.
Ini mengandung arti menjauhi hal hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi,
wara adalah meninggalkan segala yang didalamnya terdapat syubhat (keragu-raguan)
Kefakiran.
·
Tidak
meminta lebih daripada apa yang telah ada pada diri kita
·
Tidak
meminta rejeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban.
·
Tidak
meminta, sungguhpun taka da pada diri kita, kalau diberi diterima tidak
·
meminta
tapi tidak menolak
Sabar
·
Sabar
dalam menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan larangannya
·
Menunggu
datangnya pertolongan dari Allah
·
Sabar
menderita kesabaran. Tidak menunggu datangnya pertolongan
Tawakal
·
Menyerah
kepada kada dan putusan dari Allah.
·
Selamanya
berada dalam keadaan tentram.
·
Tidak
memikirkan hari esok.
·
Tidak
mau makan, karena ada orang yang lebih membutuhkan
·
Percaya
pada janji Allah.
·
Menyerah
kepada Allah dengan Allah dan karena Allah.
·
Bersikap
sebagai telah mati.
Kerelaan
atau ridha
·
Tidak
berusaha.
·
Tidak
menentang kada kadar tuhan.
·
Menerima
kada dan kadar dengan hati senang.
·
Mengeluarkan
perasaan benci dari hati sehingga yang tertinggal hanya perasan senang dan
gembira.
·
Merasa
senang menerima malapetaka seperti merasa senang menerima nikmat
Al-Mahabbah
Mahabbah
adalah cinta kepada Allah. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah adalah
yang berikut.
1 Memeluk
kepatuhan kepada tuhan dan membenci sikap melawan kepadanya
2 Menyerahkan
seluruh diri kepada yang dikasihi
3 Mengosongkan hati dari segala galanya kecuali
dari diri yang dikasihi
Menurut al-Sarraj, mahabbah mempunyai
tiga tingkat
1 Cinta
biasa, yaitu selalu mengingat tuhan lewat zikir
2 Cinta
yang siddiq, yaitu yang kenal kepada tuhan pada kebesarannya, pada kekuasaannya,
pada ilmunya dan lain-lain.
3 Cinta
orang yang ‘arif, yaitu orang yang tahu betul pada tuhan. Cinta seperti ini
timbul karena telah tahu betul-betul pada tuhan
Sufi
yang termasyhurdalam mahabbah ialah Rabi’ah al-adawiah (713-801 H) dari basrah dan
irak, Menurut riwayat ia adalah seorang budak yang kemudian dibebaskan,
diantara ucapan-ucapannya adalah yang berikut.
Aku mengabdi pada tuhan bukan karena
takut kepada neraka.. bukan pula karena ingin masuk surga … tetapi aku mengabdi
karena cintaku kepada-Nya.
Tuhanku, jika kupuja engkau karena
takut kepda neraka bakarlah aku didalamnya; dan jika kupuja Engkau karena
mengharapkan surga, jauhkan aku darinya; tetapi jika engkau kupuja semata-mata
karena Engkau, maka janganlah sembuyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku
Al-Ma’rifah
Sebagaimana
dengan mahabbah ma’rifah juga terkadang dipandang sebagai maqam dan terkadang sebagai
hal dalam istilah barat adalah gnosis. Bagi al- ma’rifah disebut sebagai
maqam. Algazali dalam Ihya memandang bahwa ma’rifah datang sebelum mahabbah,
tetapi al-Kalabdi dalam al Ta’aruf li mazhab al-Tasauf, menyebutkan ma’rifah
datang sesudah mahabbah. Keduanya merupakan keadaan dekatnya hubungan saorang
sufi dengan tuhan
Dari
literature yang diberikan tentang ma’rifah.ma’rifah brarti mengetahui tuhan
dengan dekat sehingga hati sanubari dapat melihat tuhan. Oleh karena itu orang
orang sufi mengatakan.
1 kalau
mata yang terdapat dalam hati manusia terbuka.maka kepalanya akan tertutup dan
ketikla itu yang dilihatnya hanya Allah.
2 ma’rifah
adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya
hanyalah Allah.
3 Yang
dilihat seorang arif baik sewaktu tidur maupun waktu bangun hanyalah Allah.
4 Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi,
semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan
serta keindahannya
Dalam tasauf Zunnun al Misrilah (wafat
860 M) yang dipandang sebagai bapak paham ma’rifah menurutnya ada tiga macam
pengetahuan tentang tuhan :
1. Pengetahuan awam; tuhan satu dengan
perantaraan upaya syahadat
2. Pengetahuan ulama: tuhan satu menurut logika
akal.
3. Pengetahuan sufi: tuhan satu dengan
perantaraan hati sanubari
Alat
untuk memperoleh ma’rifah, oleh kaum sufi disebut sir,
Menurut al-Qusyairi ada tiga alat dalam
tubuh manusia yang dipergunakan sufi dalam hubungan mereka dengan tuhan. Qalb
untuk mengetahui sifat sifat Tuhan. Ruh untuk mencintai Tuhan, dan Sir untuk
melihat Tuhan, memperoleh ma’rifah merupakan proses yang bersifat kontinu.
Makin banyak seseorang sufi memperoleh ma’rifah dari Tuhan makin banyak yang
diketahui rahasia rahasia Tuhan ia pun makin dekat dengan tuhan tetapi
memperoleh ma’rifah yang penuh tentang Tuhan tidak mungkin, karena manusia
bersifat finite, sedang tuhan bersifat infinite
Al-Fana dan al-Baqa
Sebelum sufi dapat bersatu denga Tuhan, ia
harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan
dirinya, ia tak akan dapat bersatu denga tuhan. Penghancuran diri ini dalam
tasauf dinamakan dengan fana atau
hilang, hancur.
Penghancuran dalam istilah sufi
senantiasa diiringa oleh baqa’ atau tetap, terus hidup, fana dan baqa merupakan
kembar dua hal ini dapat dilihat dari faham faham sufi berikut:
- Jika kejahilan (iqnorance) dari seseorang
hilang, yang akan tinggal ialah pengetahuan.
- Jika seseorang dapat menghilangkan
maksiatnya, yang akan tinggal ialah takwanya.
- Siapa yang menghancurkan sifat sifat
(akhlak) yang buruk, tinggal baginya sifat-sifat yang baik. Sifat-sifat yang
baik ini kemudian meningkat menjadi sifat-sifat Tuhan.
- Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya
mempunyai sifat-sifat Tuhan.
Fana
yang dicari orang sufi ialah penghancuran diri yaitu al-fana al-nafs maksudnya
ialah hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar.
Kalau
seorang sufi telah mencapai al-fana al-nafs yaitu kalau wujud jasmaninya taka
da lagi ( tak disadarinya lagi) makanyang akan tinggal adalah wujud rohaninya
dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan tuhan.
Dalam sejarah tasauf, Abu Yazid
al-Bustami-lah (wafat 874 M) yang dipandang sufi pertama yang menimbulkan fana
dan baqa ini.
Al-Ittihad
Yang
dimaksud dengan ittihad kelihatannya ialah satu tingkatan dalam tasauf dimana
seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, Satu tingkatan dimana
yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Sehingga salah satu dari mereka dapat
memanggil yang satu lagi dengan kata-kata; Hai aku atau yaa anaa. Dalam ittihad
kata A.R. al-Badawi yang dilihat hanya
satu wujud, sesungguhnya sebenarnya ada dua wujud yang berpisah satu dari yang
lain. Karena yang dilihat dan dirasakann hanya satu wujud.maka dalam ittihad
bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai dan yang dicintai atau
tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad identitas telah hilang, identitas
telah menjadi satu.
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya Abu Yazid-lah yang pertama sekali menimbulkan faham
fana dan baqa dalam tasauf.
Dengan
fana Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi meninggalkan Tuhan. Bahwa ia
telah berada dekat dengan Tuhan. Itu dapat dilihat dari syatahat . syatahat adalah kata kata yang dikeluarkan seorang sufi
ketika ia mulai berada di pintu gerbang ittihad
Al-Hulul
Paham
hulul dalam tasauf ditimbulkan oleh Husain ibn Mansur al Hallaj (858-922 M), ia
dihukum bunuh dan setelah setelah badannya tak bernyawa lagi ia dibakar dan
abunya dibuang ke sungai tigris.
Tuduhan-tuduha yang dihadapkan
kepadanya:
1. ia mempunya hubungan dengan gerakan Qaramat,
( carmatians) satu sekte syi’ah yang dibentuk oleh Hamdan ibn Qarmat di akhir
abad ke-9 M. Sekte ini mempunyai faham komunis (harta benda dan
perempuan-terdiri dari kaum petani) mengadakan terror, menyerang mekkah tahun
930 M. merampas hajar aswad yang dikembalikan oleh kaum fatimi di tahun 951.
2. Keyakinan para pengikutnya bahwa ia
mempunyai sifat ketuhanan. Pengi-kutnya di kalangan rakyat jelata besar.
3. Ucapannya. Ana al Haq: aku yang maha benar.
4. Ibadah haji tidak wajib.
Hulul
menurut keterangan Abu Nasr Al-Tusi dalam al Luma ialah paham yang mengatakan
bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di
dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dilenyapkan.
Menurut
al Hallaj, Allah kelihatannya mempunyai dua natur atau sifat dasar; ketuhanan,
lahut dan kemanusiaan, nasut. Ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian
makhluk dalam bukunya yang berjudul at-tawasin.
Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat dirinya sendiri
(tajali al-haq linafsihi), dalam kesendiriannya itu terjadilah dialog antara
Tuhan dengan dirinya sendiri, dialog yang didalamnya tak terdapat kata-kata
ataupun huruf-huruf yang dilihat hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya.
Wahdat al-Wujud
Wahdat al-Wujud berarti kesatuan wujud, unity
of existence, paham ini adalah kelanjutan dari paham hulul, dan dibawa oleh
Muhi al-Din ibnu al- Arabi yang lahir di Murcia sepanyol, di tahun 1194 M,
masuk aliran sufi di tahun 1194 M, di Tunisia, di tahun 1202 ia pergi ke mekah
dan meninggalkan damaskus tahun di tahun 1240 M. ia mengarang buku lebih dari
200 buku, bukunya yang termasyhur adalah fusus
al-Hikam.
Dalam
paham wahdat al-Wujud nasut yang ada dalam al-Hulul diubah oleh Ibn al-Arabi
menjadi khalq atau makhluk dan lahut menjadi haq atau Tuhan. Khalq dan Haq
adalah dua aspek bagi tiap sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut Khalq dan
aspek sebelah dalam disebut Haq, khalq dan Haq merupakan sinonim dari al-Ard
dan alJauhar, dan dari al-Zahir, lahir, luar dan al-Batin, dalam.
Menurut
paham ini tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek, aspek luar, yang merupakan
‘ard dan Khalq yang mempunyai sifat kemakhlukan; dan aspek dalam yang merupakan
jauhar da Haq yang mempunyai sifat ketu-hanan.
Filsafat
ini timbul dari paham bahwa Allah
sebagaimana yang diterangkan dalam uraian tentang Hulul, ingin melihat diri-Nya
diluar diri-Nya dan oleh karena itu dijadikanlah alam ini,maka alam ini
merupakan bagi Alloh.
Manfaat
bagi pembaca atau penulis
Seteelah
membaca dan disamakan dengan penerangan dari bapak dosen Alhamdulillah banyak
sekali manfaatnya buat saya khusus dalam bidang ilmu tentang tasauf ini, saya
memamg sering mendengar tentang tasauf, tapi belum mendalam, Dan yang sangat
bermanfaat bagi saya dari buku tasauf ini adalah ada keinginan untuk merubah
diri jadi lebih baik lagi, banyak beribadah, dan menjaga hati dari sifat-sifat
tercela supaya menjadi orang yang bersih dari dosa, dan dicinta oleh Allah swt,
Komentar kritis
Kalo
menurut saya pribadi yang baru mempelajari tentang tasauf dari isi buku ini
banyak yang bermanfaatnya, tapi ada juga hal-hal yang janggal dan harus
dilengkapi lagi dalam penjelasannya mungkin karena bukunya aga kecil jadi
keterangannya sedikit, dan menurut saya tentang isi buku ini sama dengan yang
diterangkan Bapak Dosen dan insa alloh benar, karena ditunjang dengan
dalil-dalil al-qur’an dan hadits nabi Muhammad saw, juga tidak bertentangan
dengan ajaran islam dan tujuannya untuk kebaikan bukan untuk kesombongan dan
kekuatan, karena ada orang yang sudah mencapai derajat tertentu dan bisa
melakukan yang aneh lalu ia jadi sombong, tapi kalo sufi yang sebenarnya adalah
yang benar-benar ingin dekat dengan Allah dan ingin mencari rido-Nya.
Kesimpulan
Falsafah
islam bila dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, banyak dipengaruhi oleh bangsa
yunani,seiring dengan bertambahnya zaman islampun semakin meluas pada abad ke-7
oleh khalifah bani Umayah A Malik ibnu Marwan khalifah ke-5 dari bani Umayah,
Alexandriya, Antioch dan Bactra kemudian menjadi pusat ilmu pengetahuan dan
falsafah yunani
Di
tahun 740-828 M banyak bermunculan ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti Muhammad,
Ahmad dan Hasan, ketiganya bersaudara dan ahli matematika. Al-Asma, yang
mengarang buku ilmu pengetahuan alam, Jabir dalam ilmu Kimia, al-Biruni dalam
ilmu Astronomi, Geografi, Sejarah dan Matematika, Ibnu al-Haitam dalam ilmu
Optik
Tokoh-tokoh
falsafah islam yaitu:
1.Ya’kub ibn Ishaq
al-Kindi, terkenal dengan falsafah ketuhanan dan falsafah jiwa.
2. Abu Bakar
Muhammad ibn Zakaria al-Razi terkenal dengan falsafah lima kekal,
rohdan materi dan rasio dan agama.
3. Abu Nasr Muhammad
al-Farabi terkenal dengan falsafah
emanasi, falsafah kenabian dan teori politik.
4. Abu Ali husen
ibnu Abdillah ibnu Sina terkenal dengan falsafat jiwa, falsafat wahyu dan nabi
dan falsafaht wujud.
5. Abu Hamid
Muhammad al-Gazali karangannya adalah kritik terhadap filosof filosof, dan tiga
golongan manusia.
6. Abu al-Walid
Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd terkenal dengan falsafat tidak bertentangan dengan islam dan pembelaan
terhadap para filosof.
Tasawuf
adalah ilmu yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang islam dapat
berada sedekat mungkin dengan Allah SWT.
Tasawuf
berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata Sufi
adalah seorang zahid bernama Abu Hasyim al-Kufi di Irak (Wafat tahun 150 H) ,
sedangkan menurut etomologi kata sufi adalah : Ahli assufah, saf pertama dalam
shalat, sufi yaitu suci, sofos yaitu hikmat dan suf kain yang dibuat dari bulu
wol.
Dalam
ilmu tasauf untuk dekat dengan Tuhannya seorang sufi harus melaui
stasiun-staiun atau maqamat, antara lain diantaranya tobat, zuhud, sabar, tawakal
dan kerelaan atau ridha, Wallahu a’lam.



Komentar
Posting Komentar