Pendidikan dalam Prespektif Filsafat Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Filsafat tidaklah  bisa lepas dari dari kehidupan manusia, karena sejarah filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada masa lalu. Filsafat yang dijadikan sebagi pandangan hidup, erat kaitannya dengan nilai-nilai tentang manusia yang dianggap benar.
Sehubungan dengan manusia, pendidikan adalah salah satu aspek yang dapat menjadikan manusia menjadi manusia dewasa yang arif dan bijaksana. Bahkan dalam islam pendidikan adalah salah satu kegiatan yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita dan berlangsung seumur hidup, semenjak dari buaian hingga ajal datang.
Dari situ dapat dilihat bahwa pendidikan sebagai bagian yang tidak  terpisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan itu, Filsafat sangatlah erat kaitannya dengan pendidikan yang senantiasa mengandung pemikiran dan kajian, baik secara konseptual maupun operasionalnya, sehingga diperoleh relevansi dan kemampuan menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia. Maka dari itu sangat diperlukan untuk mempelajari tentang filsafat pendidikan islam mengenai pendidikan itu sendiri.

B.  Rumusan masalah
1.    Apa pengertian filsafat pendidikan islam?
2.    Bagaimana ruang lingkup filsafat pendidikan islam?
3.    Bagaiamanakah pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan islam?

C.  Tujuan pembahasan
1.    Mengetahui pengertian filsafat pendidikan islam
2.    Mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan islam
3.    Mengetahui pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Sebelum kita mengetahui pengertian dari filsafat pendidikan islam, harus diketahui terlebih dahulu pengertian masing-masing  dari ketiga kata tersebut.
1.    Filsafat
Konotasi bila mendengar kata filsafat, maka akan segera menunjuk sesuatu yang bersifat prinsip atau dasar. Bahkan selain  itu juga dikaitkan dengan suatu pandangan hidup yang mengandung nilai dasar-dasar tertentu, seperti filsafat pancasila dan filsafat islam. Filsafat sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosopia. Dari kata ini kemudian banyak diperoleh pengertian-pengertian filsafat baik dari segi etimologinya (bahasa) maupun dari segi kandungannya.
Menurut Sutan Zanti Arbi filsafat berasal dari bahsa Yunani kuno Philosophia yang bermakna kecintaan akan kearifan. Makna kearifan melebihi pengetahuan karena kearifan mengharuskan adanya pengetahuan dan dalam kearifan terdapat ketajaman dan kedalaman.
Menurut John S Brubacher berpendapat bahwa filsafat berasal dari kata filos dan sofia yang berarti cinta kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan.[1]
Menurut Prof.Dr. Harun Nasution filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philein (cinta) dan sophos (hikmah/ wisdom) dan filsafat menurutnya bukan berasal dari bahasa arab Falsafah dan juga bukan berasal dari kata barat Philosophy.[2] karena orang Arab memindahkan kata Yunani Philosophia kedalam bahasa mereka dengan menyesuaikannya dengan tabiat susunankata-kata Arab yaitu falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal.
Dari pengertian secara etimologi itu, Nasution memberikan definisi filsafat sebagai berikut:
a.    Pengetahuan tentang hikmah
b.    Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar mencari kebenaran
c.    Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas
Dengan demikian ia berpendapat bahwa intisari filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar-dasar persoalannya. Adapun pengertian yang bermacam-macam telah diungkapkan oleh Drs Sidi Gazalba bahwa para filosof mempunyai pengertian atau definisi tentang filsafat masing-masing.[3]
Tak hanya tentang pengertian-pengertiannya saja yang bermacam-macam, kajian dan telaah filsafatnya juga sangat luas, oleh karena itu filsafat merupakan sumber pengetahuan. Namun setidaknya ada dua pokok yang dapat kita mengerti dari filsafat ini yaitu
1)   Aktifitas berfikir manusia secara meneyeluruh, mendalam dan spekulatif terhadap sesuatu baik mengenai ketuhanan, alam semesta maupun manusia itu sendiri guna menemukan jawaban hakikat sesuatu itu
2)   Ilmu pengetahuan yang mengkaji, menelaah atau menyelidiki hakikat sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan , alam semesta dan manusia secara menyeluruh, mendalam dan spekulatif dalam rangka memperoleh jawaban  tentang hakikat sesuatu itu yang akhirnya temuan itu menjadi pengetahuan.[4]

2.    Pendidikan
Ada banyak definisi tentang pendidikan diantaranya sebagai berikut:
Menurut UU SISDIKNAS Th 2003 No 20  “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[5]
Hadari Nawawi (1988) mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia baik didalam maupun diluar sekolah
Hasan Langgulung (1986) mengartikan pendidikan sebagai usaha untuk mengubah dan memindahkan nilai kebudayaan pada setiap individu dalam suatu masyarakat.
Jadi pendidikan adalah ikhtiar atau usaha manusia dewasa untuk mendewasakan peserta didik agar menjadi manusia mandiri  dan bertanggung jawab baik terhadap dirinya maupun segala sesuatu diluar dirinya, orang lain, hewan dan sebagainya.
3.    Islam
Menurut Harun Nasution islam adalah segala agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad sebagai rasul. Islam adalam adalah agama yang seluruh ajarannya bersumber dari alqur’an dan alhadits dalam rangka mengatur dan menuntun kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan dengan alam semesta.[6]
Dari definisi masing-masing kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan islam adalah suatu aktifitas berfikir menyeluruh, dan mendalam dalam rangka merumuskan konsep, menyelenggarakan dan atau mengatasi berbagai problem pendidikan islam dengan mengkaji kandungan makna dan nilai-nilai dalam alqur’an dan alhadits.
Dari sisi lain, filsafat pendidikan islam diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mengkaji secara menyeluruh dan mendalam kandungan makna dan nilai-nilai alqur’an dan alhadits guna merumuskan konsep dasar penyelenggaraan bimbingan, arahan dan pembinaan peserta didik agar menjadi manusia dewasa sesuai tuntunan ajaran islam.[7]
Abudin Nata mendefinisikan filsafat pendidikan islam sebagai suatu kajian filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada alquran dan alhadits sebagai sumber primer dan pendapat para ahli khususnya filosof muslim  sebagi sumber sekunder. Selain itu ia juga mengatakan filsafat pendidikan islam adalah suatu upaya menggunakan jasa filosofis  yakni berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal tentang masala-masalah pendidikan seperti masalah manusia (anak didik), guru, kurikulum, metode dan lingkungan dengan menggunakan alqur’an dan alhadits sebagai dasar acuannya.[8]

B.  Ruang lingkup
Pemikiran dan kajian tentang filsafat pendidikan islam menyangkut tiga pokok, yaitu penelaahan tentang filsafat, pendidikan dan penelaahan  tentang islam. Karena itu, setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam dunia filsafat pendidikan islam seharusnya memahami dan memiliki modal  dasar tentang filsafat, pendidikan dan islam.
Kajian dan pemikiran mengenai pendidikan pada dasarnya menyangkut aspek yang sangat luas dan menyeluruh yaitu aspek kebutuhan khususnya umat islam dan kehidupan manusia Ketika dilakukan kajian dan dirumuskan pemikiran  mengenai tujuan pendidikan islam, maka tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup umat manusia. Karena tujuan pendidikan islam pada hakikatnya dalam rangka mencapai tujuan  hidup manusia.
Menurut Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan islam,  berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik logis dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan yang tidak hanya dilatarbelakagi oleh pengetahuan ilmu agama saja, melainkan menuntut kita untuk memepelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberikan petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat pendidikan islam adalah masalah-masalah seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan.[9]

C.  Pendidikan dalam perspektif filsafat pendidikan islam

Pendidikan khususnya pendidikan islam merupakan keharusan mutlak atau kewajiban untuk dilaksanakan secara konsisten dengan penuh rasa tanggungjawab guna mencapai kesejahteraan hidup sebagai wujud peribadatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta meraih kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.
Selain itu, pendidikan islam mutlak dibutuhkan oleh setiap anak muslim untuk kebutuhan eksistensinya. Terutama saat memasuki era globalisasi yang penuh tantangan pendidikan islam yang menekankan aspek keceradasan spirirtual memiliki format pemeliharaan, pemanfaatan dan pengembangan fitrah kemanusiaan dalam mengantisipasi krisis spiritual dalam di era globalisasi.[10]
Untuk mewujudkan itu semua, pendidikan haruslah di dasarkan atau dipondasikan pada sumber yang terpercaya, yang mutlak dan yang tak ada tandingannya yaitu alqur’an dan alhadits. Kedua sumber tersebut adalah hal yang diwariskan Nabi Muhammad untuk umat islam sebagai landasan dan pedoman dalam menjalani kehidupan serta menjadi sumber dalam mewujudkan tujuan pendidikan islam yang diinginkan.
Sebagai contoh tujuan pendidikan islam yang sekaligus tujuan manusia diciptakan yaitu menjadikan manusia yang bertakwa. Sebagaimana dalam alqur’an surat al-Imran ayat 102
           ياَ اَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اَÙ…َÙ†ُÙˆْا اتَّÙ‚ُوا اللَÙ‡َ Ø­َÙ‚َّ تُÙ‚َاتِÙ‡ِ ÙˆَÙ„َا تَÙ…ُÙˆْتُÙ†َّ اِÙ„َّا ÙˆَاَÙ†ْتُÙ…ْ Ù…ُسْÙ„ِÙ…ُÙˆْÙ†َ                                             
artinya: hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan ketaqwaan yang sempurna dan janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan muslim.
Ayat ini menggambarkan tujuan hidup manusia islam yang harus mencapai derajat ketaqwaan, dimana ketaqwaan  itu harus senantiasa melekat dalam kehidupan umat manusia  hingga akhir hayatnya.
Tujuan hidup yang menjadi tujuan pendidikan lainnya, menurut Abdul Fatah Jalal yaitu  menjadikan manusia sebagai ‘Abid (hamba Allah) tujuan ini bermaksud menjadikan manusia beribadah hanya kepada Allah SWT semata, sebagaimana dalam surat Adz-Zariyat ayat 56

Ùˆَ Ù…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†ّ Ùˆَا Ù„ْاٍÙ†ْسَ اِÙ„َّاَ Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†َ                                                                   
Yang artinya: “Dan Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu.”
Untuk menjadi hamba Allah yang ahli ibadah tentunya setiap manusia perlu mngetahui ilmu tata cara ibadah yang baik dan benar  agar ibadahnya tidak sia-sia dan diterima oleh Allah. Disini pendidikan sangat berperan dalam mewujukan  tujuan itu.
Dalam mewujudkan Tujuan-tujuan pendidikan itu maka peran filsafat pendidikan islam (pemikiran yang mendalam, sistematis, radikal dan universal) sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan tujuan tersebut, seperti bagaimanakah konsep, media, kurikulum, metode pembelajarannya, lingkungan pembelajaran, dan masalah-masalah apa sajakah yang akan timbul serta bagaimanakah solusi pemecahannya dalam proses pengaktualisasian dari rumusan tujuan pendidikan tadi. Atau dapat dikatakan dalam perwujudan tujuan-tujuan itu dibutuhkan manejemen  pendidikan yang baik agar dalam proses pendidikan tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuannya saja akan tetapi dapat membantu peserta didik dalam merealisasikan tujuan hidup tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.
Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan. Sebagai persoalan hidup maka pendidikan dalam pengembangan konsep-konsepnya perlu menggunakan sistem pemikiran filsafat pendidikan islam yang menyangkut metafisika, epistemologi, aksiologi dan logika, karena problem yang ada dalam pendidikan juga berada dalam lapangan filsafat tersebut. karena itu hubungan antar filsafat dan pendidikan sangatlah erat. Dengan demikian filsafat dan mendidik adalah dua tahap kegiatan tapi dalam satu usaha. Berfilsafat ialah memikirkan dengan seksama nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik adalah usha merealisasikan nilai-nilai dan cita-cita itu dalam kehidupan dan kepribadian manusia.
Sistem pemikiran filsafat jika dikaitkan dengan pendidikan, maka sebagai berikut:
1.    Dalam lapangan metafisika, antara lain diperlukan adanaya pendirian mengenai pandangan duniayang bagaimanakah yang diperlukan dalam pelaksanaakan sebagai jalan rn dalam pendidikan.
2.    Dalam lapangan epistemologi, anatara lain diperlukan dalam penyusunan dasar-dasar kurikulum. Kurikulum yang biasa diartikan sebagai serangkaian kegiatan atau sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, diibaratkan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh peserta didik dalam usaha mengenal dan memahami pengetahuan
3.    Dalam lapangan aksiologi, yakni yang memepelajari nilai-nilai juga sangat dekat dengan pendidikan, yang selalu dipertimbangkan dalam penentuan tujuan pendidikan karena dunia nilai(etika dan estetika) juga menjadi dasar pendidikan yang selalu dipertimbangkan dalam penentuan tujuan pendidikan
4.    Dalam lapangan logika, sebagai cabang filsafat yang meletakkan landasan berpikir yang benar dan valid sangat diperlukan dalam pendidikan kecerdasan[11]
Dari sistem pemikiran filsafat tersebut menunjukkan bahwa filsafat pendidikan islam merupakan aktifitas berfikir sistematis yang menggunakan filsafat sebagai sarananya untuk mengorganisasi dan mengkoordinasi proses pendidikan serta memperjelas nilai-nlai  dan tujuan-tujuan yang akan direalisasikan.
Oleh karena itu, pendidikan islam memerlukan landasan-landasan yang berasal dari filsafat atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan filsafat. dikatakan landasan karena filsafat melahirkan pemikiran-pemikiran yang teoritis tentang pendidikan, dan dikatakan mempunyai hubungan karena berbagai pemikiran mengenai pendidikan memerlukan bantuan penyelesaiannya dari filsafat. Dengan demikian, peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan kontribusi utama bagi pemikiran pendidikan. Tak hanya itu dalam prakteknya, filsafat pendidikan islam juga banyak berperan penting dalam pengembangan pendidikan islam yaitu memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh pendidikan islam.
Peranan-peranan tersebut adalah sebagai berikut
1.    Filsafat pendidikan islam Menunujukan masalah yang dihadapi oleh pendidikan islam dan berusaha untuk memahami duduk permasalahannya serta menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan  masalah tersebut dari hasil analisisnya
2.    Filsafat pendidikan islam memberikan pandangan tertentu tentang hakikat manusia (sebagai objek pendidikan) yang berkaitan dengan  tujuan hidup manusia sekaligus tujuan pendidikan islam.
3.    Filsafat pendidikan islam dengan analisisnya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan (sifat-sifat Tuhan/ asamaul husna) yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan serta tidak boleh mengarah pada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebutdalam pengembangannya. Hal ini  akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
4.    filsafat pendidikan islam dalam analisisnya terhadap masalah pendidikan masa kini yang sedang dihadapi, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam atau belum[12]

Dengan demikian peranan filsafat pendidikan islam mempunyai dua arah, yaitu pertama kearah pengembangan konsep-konsep filosofis  dari pendidikan islam, yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan islam dan kedua kearah perbaikan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan islam.[13] Selain  itu, peranan filsafat pendidikan islam bagi pendidikan yaitu menyumbangkan hasil analisanya tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses pendidikan.

















BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Filsafat pendididkan islam juga diartikan sebagai suatu upaya menggunakan jasa filosofis  yakni berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal tentang masala-masalah pendidikan seperti masalah manusia (anak didik), guru, kurikulum, metode dan lingkungan dengan menggunakan alqur’an dan alhadits sebagai dasar acuannya.
Ruang lingkup  filsafat pendidikan islam menyangkut tiga pokok, yaitu penelaahan tentang filsafat, pendidikan dan penelaahan  tentang islam. Karena itu, setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam dunia filsafat pendidikan islam seharusnya memahami dan memiliki modal  dasar tentang filsafat, pendidikan dan islam.
Pendidikan islam memerlukan landasan-landasan yang berasal dari filsafat atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan filsafat.
Peranan filsafat pendidikan islam bagi pendidikan yaitu menyumbangkan hasil analisanya tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang dijadikan landasan atau petunjuk dalam proses pendidikan.









DAFTAR PUSTAKA
Syar’i, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, cet 1
Zhuairini,  filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:Bumi Aksara, 2008. cet  4
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, cet1
Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1990, cet 4
Zuhairini, filsafat pendidikan islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
Efferi, Adri,  Filsafat Pendidikan Islam, Kud: Nora Media Enterprise, 2011
Barnadib, Imam,  filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode, Jakarta: Andi Offset, 1976
http://www.smp6sengkang.com/2011/11/urgensi-pendidikan-islam-dalam-upaya.html.
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas.html
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/05/25/filsafat-pendidikan-islam.html
http://mgmppaismkpurbalingga.blogspot.co.id/2015/04/urgensi-filsafat-pendidikan-islam-26.html




[1] H. Ahmad Syar’i, , Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2005) cet 1 hal 1
[2] Dra Zhuairini,  filsafat Pendidikan Islam, (jakarta:Bumi Aksara, 2008) cet  4 hal 3
[3] Ibid, hal 4
[4] H. Ahmad Syar’i, , Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2005) cet 1 hal 3
[5] https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/12/04/definisi-pendidikan-menurut-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sisdiknas.html
[6] Ibid, hal 4
[7] Ibid,  hal 5
[8] Abudin Nata, MA, Filsafat Pendidikan Islam, (JakartaLoogos Wacana Ilmu, 1997), cet 1
[9] Ahmad hanafi, MA, Pengantar Filsafat Islam (jakarta: Bulan Bintang, 1990), cet 4
[10] http://www.smp6sengkang.com/2011/11/urgensi-pendidikan-islam-dalam-upaya.html.

[11] Imam Barnadib, filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode, (jakarta: Andi Offset, 1976), hal 8
[12] Zuhairini, filsafat pendidikan islam, (jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal 132
[13] Adri Efferi, Filsafat Pendidikan Islam, (Kud: NoraMedia Enterprise, 2011), hal 43

Komentar

Postingan Populer